Laporan kompas dari myanmar

Diplomasi Melalui Sekolah

Kompas.com - 02/04/2012, 03:40 WIB

Orin Basuki dan Wisnu Dewabrata

Hubungan Indonesia dengan Myanmar belum seakrab seperti hubungan dengan negara lain. Namun, hubungan dua negara itu sebenarnya sudah terjalin lama. Salah satu buktinya adalah adanya sekolah Indonesia bertaraf internasional, Indonesian International School Yangon.

Bagi Indonesia, memainkan peran diplomasi di ASEAN bisa melalui banyak cara. Salah satunya melalui pendekatan kebudayaan, dalam hal ini melalui dunia pendidikan. Alat diplomasi ini layak dikategorikan sukses dan perlu dikembangkan karena Indonesian International School Yangon (IISY) sangat diminati warga Myanmar.

Untuk tahun ajaran 2012, dari 441 siswa yang terdaftar di IISY, 413 siswa di antaranya berkewarganegaraan non-Indonesia. Sebanyak 400 siswa asal Myanmar dan 13 siswa lainnya dari Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan Singapura.

IISY terletak di Lower Kyeemyindine Road Nomor 100, Ahlone Township, Yangon. Sekolah ini berdiri sejak 1967, berbagi lahan dengan wisma tamu dan kediaman Atase Pertahanan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Dengan luas sekitar 13.372 meter persegi, IISY memanfaatkan sepertiga dari luas lahan kompleks KBRI. Meski sudah berdiri sejak 1967 dengan nama Sekolah Indonesia Duta Teruna, status sekolah internasional baru diterapkan pada 2005.

Suasana sekolah terasa nyaman karena banyak pohon rindang. Taman yang ditata apik juga menjadi daya tarik IISY. Orangtua tidak perlu khawatir terhadap masalah keamanan karena sekolah ini berada dalam satu pengamanan yang sama dengan kompleks KBRI.

Kepala Sekolah IISY sekaligus guru bahasa Indonesia, Yus- tinus Darmo, Jumat (30/3), menyebutkan, ada dua alasan yang menjadikan sekolah ini diminati warga negara asing. Pertama, biaya pendidikannya paling murah, yakni 85 dollar AS per bulan, sementara biaya sekolah bertaraf internasional lain di Yangon rata-rata 200 dollar AS per bulan. Biaya pendidikan sengaja ditekan karena KBRI menginginkan IISY tetap menjadi lembaga nirlaba dan lebih berfungsi sebagai jembatan budaya.

Kedua, kualitas pendidikan dijaga tetap tinggi. IISY bersandar pada standar sertifikat umum internasional, yakni International General Certificate of Secondary School, bekerja sama dengan British Council. Dengan mengikuti standar tersebut, lulusan SMA IISY sangat leluasa meneruskan pendidikan tinggi ke berbagai perguruan tinggi internasional di luar Myanmar.

Meski demikian, IISY juga memasukkan kurikulum pendidikan dari Tanah Air, yakni kurikulum tingkat satuan pendidikan. Inilah jalan masuk bagi nilai-nilai dan budaya Indonesia diperkenalkan kepada para siswa IISY. Sekolah ini memiliki 42 guru, 32 orang di antaranya guru asal Myanmar, 8 guru asal Indonesia, dan 2 guru tamu.

”Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran wajib. Kelas bahasa Indonesia untuk anak Indonesia tentunya dibedakan dari siswa asing. Begitu juga kegiatan ekstrakurikuler, kesenian, dan budaya Indonesia menjadi fokus, misalnya tari jaipongan dan angklung. Keterampilan ini kami tampilkan dalam setiap kompetisi antarsekolah bertaraf internasional di Myanmar,” tutur Darmo.

Sejak dini

IISY membuka kelas taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas (SMA). Dari 12 tingkatan pendidikan dasar hingga menengah, siswa asing hanya diperkenankan mengikuti pendidikan di IISY hingga kelas X. Hanya siswa Indonesia yang bisa meneruskan hingga kelas XII dan mengikuti ujian nasional.

Kebijakan itu diambil karena Pemerintah Myanmar sampai saat ini menetapkan lulusan SMA IISY belum dapat diterima langsung di perguruan tinggi di Myanmar. Mereka harus melalui ujian penyetaraan lebih dulu.

”Ini masalah yang jalan keluarnya sedang kami pikirkan. Kami menginginkan agar siswa lulusan SMA IISY dapat diterima di universitas di Myanmar. Itu bisa membuka peluang lebih besar bagi siswa warga negara Myanmar yang ingin kuliah di negeri sendiri. Kami akan terus mendialogkan hal ini dengan Pemerintah Myanmar,” ujar Sekretaris Ketiga KBRI Djumara Supriyadi.

Dengan keterbatasan itu pun IISY tetap diminati siswa asing. Itu ditandai dengan antrean calon siswa yang mendaftar pada 2012, yang mencapai 150 orang, dan dipastikan tidak akan tertampung semua. Daya tampung IISY masih 50-60 siswa per tahun karena setiap kelas hanya dibatasi untuk 20-25 siswa.

Melihat besarnya minat pada IISY, pihak sekolah tengah merancang pengembangan jumlah kelas agar dapat menampung tambahan 50-60 siswa.

Penambahan ruang kelas ini murni menggunakan dana sumbangan orangtua siswa plus iuran bulanan sehingga tidak memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Meski demikian, penambahan jumlah kelas itu otomatis akan menaikkan nilai barang milik negara. Dengan kata lain, selain menjadi alat diplomasi, IISY juga memperkaya aset Indonesia.

Pada 2011, IISY tuntas membangun fasilitas olahraga di dalam ruangan senilai 150.000 dollar AS atau sekitar Rp 1,375 miliar. Semuanya dari sumbangan orangtua siswa dan iuran bulanan. Biaya pembangunan itu cukup mahal mengingat material bangunan di Myanmar rata-rata harus diimpor dari Thailand. Harga material bangunan yang tinggi dan keterbatasan anggaran membuat rencana pembangunan ruang kelas terus berjalan lambat.

”Bagaimanapun, saya akan memperkuat sekolah IISY. Ini sangat tepat untuk dikembangkan sebagai soft power diplomacy kita,” tutur Duta Besar Indonesia untuk Myanmar Sebastianus Sumarsono.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau