MILAN, SELASA -
Demikian diungkapkan klub AC Milan, Selasa (3/4). Cassano menjalani operasi ringan jantung, November lalu, setelah jatuh sakit di pesawat dalam perjalanan pulang seusai melawan AS Roma. Situasi ini muncul ketika ia sebenarnya mencapai salah satu momentum terbaik dalam kariernya.
Cassano adalah pencetak gol terbanyak tim Italia pada babak kualifikasi Piala Eropa 2012 dengan enam gol. Ia menjadi pemain utama tim ”Azzurri” di bawah Pelatih Cesare Prandelli setelah diabaikan pelatih sebelumnya, Marcello Lippi.
Lahir di Bari, Cassano mengisi kariernya penuh warna-warni, ditandai dengan watak temperamental dan kepribadiannya yang terpecah. Emosinya mulai stabil setelah bergabung ke Sampdoria, selepas hengkang dari Real Madrid pada 2007.
Namun, di klub barunya itu, ia berselisih dengan Presiden Sampdoria pada 2010 dan hijrah ke Milan awal tahun lalu. Cassano menjadi salah satu faktor utama sukses Milan saat menjuarai Serie A musim lalu. Musim ini, ia masih tampil menawan sebelum sakit dan dioperasi jantung.
”Kami menunggu dia,” kata Prandelli saat mendengar keputusan medis yang memberi lampu hijau kepada Cassano untuk kembali latihan. ”Begitu dia mendapat lampu hijau, dia akan punya energi besar tampil di Piala Eropa. Dia sangat termotivasi.”
Tenaga dan ketajaman Cassano sangat dibutuhkan Italia untuk bersaing pada penyisihan Grup C Piala Eropa 2012 dengan juara bertahan Spanyol, Kroasia, dan Irlandia.
Dari Warsawa dilaporkan, Pelatih Polandia Franciszek Smuda (63) yakin dirinya membuat kemajuan besar pada tim asuhannya di tengah situasi yang dilukiskannya sebagai ”krisis sepak bola”.
Polandia baru menjalani debut penampilan di Piala Eropa, empat tahun lalu di Austria-Swiss, di mana mereka tersingkir di penyisihan grup. Pada penampilan keduanya selaku tuan rumah bersama Ukraina, mereka berharap mencapai kemajuan.
Saat Smuda ditunjuk menangani timnas Polandia, Oktober 2009, kondisi tim itu jauh dari ideal. Polandia finis di peringkat kedua dari dasar klasemen Grup 3 kualifikasi Piala Dunia 2010 dan sejak itu tidak menjalani laga kompetitif hingga musim panas tahun ini.
Dalam 18 bulan terakhir, mereka kalah dalam dua laga terakhir dari 11 laga persahabatan. Dari laga-laga persahabatan itu, Polandia mampu menahan seri Portugal dan Jerman serta menang atas Argentina.
”Kami mengalami sedikit krisis sepak bola di Polandia. Jadi, berbicara soal talenta-talenta individu dan para pesepak bola hebat, ini tidak seperti pada tahun 1970-an, 1980-an, atau 1990- an,” kata Smuda.
”Kami membangun tim muda dengan umur rata-rata 23 hingga 24 tahun. Meski demikian, kami menemukan sebuah tim yang bermain dengan 100 persen kemampuan mereka. Pertama, perlu segera menemukan 11 pemain utama dan kemudian 25, 26 pemain,” kata Smuda.
”Saya pikir, kami membuat keputusan yang benar seolah-olah kami tampil pada laga kompetitif untuk memetik poin. Kemajuan telah terwujud, terutama, terkait dengan taktik.”(REUTERS/UEFA.COM/SAM)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang