Brokoli Bagus untuk Pasien Kanker Payudara

Kompas.com - 04/04/2012, 10:57 WIB

KOMPAS.com - Khasiat brokoli untuk kanker sudah sejak lama menjadi perhatian para ilmuwan. Dalam riset terbaru diketahui, brokoli dan juga kubis bisa meningkatkan harapan hidup pasien kanker payudara, bahkan menunda kekambuhan kanker.

Penelitian yang dilakukan di China terhadap 5.000 perempuan berusia 20 - 75 tahun yang didiagnosa menderita kanker payudara menemukan, mereka yang sering mengasup sayuran golongan cruciferous seperti brokoli, kubis, atau sawi, risikonya untuk meninggal akibat kanker payudara 62 persen lebih rendah. Manfaat lainnya, risiko kekambuhan penyakit juga 35 persen lebih rendah.

Demikian hasil riset teranyar yang disampaikan oleh  Sarah Nechuta, seorang peneliti dari Vanderbilt Epidemiologi Center di Nashville, Tenn. "Studi ini menunjukkan bahwa sayuran silangan mengandung senyawa bioaktif yang dapat melindungi terhadap kanker payudara," katanya.

Peneliti mengklaim bahwa temuan mereka berbeda dengan riset-riset sebelumnya, karena temuan kali ini lebih melihat pengaruh konsumsi sayuran keluarga brokoli dan kubis pada pasien yang telah didiagnosa kanker payudara.

Para responden dalam penelitian ini adalah wanita yang ikut bagian dalam Shanghai Breast Cancer Survival Study. Para peneliti mewawancarai relawan selama enam bulan pasca didiagnosa untuk mengumpulkan informasi tentang diet, gaya hidup dan faktor-faktor klinis seperti stadium tumor. Mereka juga ditanya tentang seberapa banyak mengonsumsi sayuran pada 18 dan 36 bulan setelah didiagnosa.

Hasil menunjukkan, wanita yang konsumsi brokoli 62 persen lebih rendah untuk meninggal akibat kanker payudara selama masa studi sekitar lima tahun ketimbang wanita kurang mendapat asupan sayuran. Sementara risiko kekambuhan 35 persen lebih rendah di kalangan perempuan yang banyak mengonsumsi brokoli.

Peneliti mengatakan, hubungan rendahnya risiko kematian dan kekambuhan kanker bahkan telah disesuaikan dengan faktor lainnya, termasuk konsumsi kedelai dan daging, asupan vitamin, aktivitas fisik, stadium kanker, pendapatan dan tingkat pendidikan. Rata-rata, para wanita dalam penelitian ini makan sekitar 3,5 ons sehari sayuran keluarga brokoli.

Meski begitu, Dr Laura Kruper, direktur dari Women Health Center, City of Hope di Duarte, Calif, mengatakan, "temuan ini sangat sulit untuk menunjukkan hubungan sebab dan akibat." Dia menambahkan, perlu dilakukan studi lebih banyak lagi khususnya pada populasi lain dan dalam jangka waktu lama untuk melihat hubungan antara keduanya.

"Saya selalu mengatakan kepada pasien saya untuk membatasi alkohol (empat gelas dalam seminggu) dan gula, serta makan lebih banyak sayuran dan sedikit konsumsi daging merah," kata Kruper. Kruper menambahkan, alkohol dan kurangnya aktivitas fisik merupakan dua faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau