Motorola Mobility akan Diselidiki Komisi Uni Eropa

Kompas.com - 05/04/2012, 06:58 WIB

Komisi Uni Eropa akan melakukan dua penyelidikan berkaitan dengan Motorola Mobility menyusul protes dari Apple dan Microsoft.

Kedua raksasa industri komputer itu melaporkan Motorola karena dianggap mencoba menghambat penjualan produk-produk mereka, antara lain iPhone, iPad dan Xbox.

Penyelidikan akan menjawab pertanyaan apakah harga yang ditetapkan Motorola Mobility dalam mendapatkan lisensi atas patennya untuk Apple dan Microsoft berlebihan atau tidak.

"Komisi akan mengkaji apalah perilaku Motorola merupakan pelanggaran dari sebuah posisi yang dominan dalam pasar," seperti tertulis dalam pernyataan Komisi Uni Eropa.

Sedangkan penyelidikan kedua menyangkut apakah gugatan pengadilan Motorola atas Apple dan Microsoft melanggar undang-undang persaingan usaha Uni Eropa.

Berdasarkan undang-undang Uni Eropa, setiap perusahaan yang memegang hak paten yang penting dalam standarisasi industri harus menyediakan teknologi itu kepada perusahaan saingan dengan harga yang layak.

Sengketa hukum antara industi komputer dan telepon pintar belakangan ini banyak terjadi, antara lain didorong oleh upaya untuk menguasai pangsa pasar yang berkembang pesat.

Microsoft pindah kantor

Motorola Mobility yang bermarkas di Amerika Serikat memiliki hak paten berkaitan dengan teknologi tanpa kabel G2 dan G3 maupun teknologi dalam memadatkan video untuk penggunaan internet dan koneksi WiFi.

Jika terbukti bersalah, maka Komisi Uni Eropa akan menjatuhkan denda sebesar 10% dari total pendapatan tahunannya, walau belum jelas apakah kelak Google -yang sedang dalam proses megambil alih Motorola- yang akhirnya akan bertanggung jawab atas denda tersebut.

Motorola sudah mengeluarkan pernyataan mereka tidak melakukan kesalahan apapun.

"Motorola Mobility yakin bahwa penyelidikan yang seksama akan memperlihatkan bahwa kami menghormati kewajiban dan memenuhi undang-undang anti trust," tulis pernyataan Motorola.

Motorola sebelumnya pernah terlibat sengketa hukum dengan Apple, mengenai nilai yang harus dibayar untuk penggunaan salah satu paten Motorola.

Pengadilan Jerman sempat mengeluarkan larangan untuk penjualan model tertentu iPad dan iPhone tahun lalu, namun belakangan keputusan itu dicabut.

Sementara itu Microsoft sudah mengumumkan pada Senin (02/04) bahwa mereka akan memindahkan pusat distribusi perangkat lunaknya untuk pasar Eropa dari Jerman ke Belanda guna mencegah kemungkinan larangan penjualan Windows 7 dan Xbox 360.

"Kami lebih suka mempertahaknan pusat distribusi Eropa di Jerman, tempatnya selama beberapa tahun. Sayangnya risiko penghentian akibat litigasi Motorola terlalu tinggi" tutur Microsoft dalam pernyataannya.

Jerman merupakan satu-satunya negara di Uni Eropa yang menghadapi gugatan Motorola atas Apple dan Microsoft sehubungan dengan hak paten yang penting untuk standarisasi teknologi. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau