Menyapih dan Menyusui dalam Kondisi Hamil

Kompas.com - 05/04/2012, 07:26 WIB

TANYA :  

Anak pertama saya baru saja berusia 2 tahun pada tanggal 24 Maret yang lalu. Dia masih menyusui, sementara saya sedang hamil anak ke 2 (usia 37 minggu). Pertanyaan saya : 1. Apakah produksi ASI saya akan sedikit untuk calon bayi saya nanti, karena anak pertama masih menyusui dalam keadaan ASI sangat sedikit dan terasa sakit bila sedang menyusui (kalau dimassage yang keluar cairan putih keruh agak bening), payudara seperti yang masih kosong dan puting cukup lecet. 2. Bagaimana menyapih dengan benar? Setiap hari saya selalu mengajak dia untuk mencoba tidur tanpa "mimi", tapi bila tidak disusui sepertinya anak pertama saya malah seperti yang tidak mengantuk, harus dipancing menyusui dulu baru merasa ngantuk. 3. Apakah peran bapak dalam proses menyapih? Apa yang bisa suami lakukan dalam mendukung penyapihan ini?

(Telly, 33, Bandung)

 

 

JAWAB :

Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada Ibu Telly atas kehamilannya yang kedua ya... Untuk menjawab pertanyaan Ibu adalah sebagai berikut:

1. Sepertinya pilihan Ibu Telly untuk menyusui dalam kondisi hamil merupakan pilihan yang baik buat Ibu dan si kakak. ASI ibu tentunya akan cukup untuk si adik ketika lahir, karena kinerja hormon di dalam tubuh kita akan mulai mengaktifkan hormon-hormon yang terkait dengan menyusui yakni prolaktin dan oksitosin. Dengan si kakak yang masih menyusui, ini akan memberi nilai tambah dengan mempercepat dan meningkatkan produksi ASI setelah proses melahirkan, karena kakak akan merangsang kedua hormon tersebut untuk bekerja lebih aktif.

Ada istilah yang dikenal untuk menyusui kakak beradik ini yakni menyusui-tandem dan kebetulan ada beberapa teman saya yang berhasil melakukannya dan ini secara psikologis juga sangat membantu si kakak mengatasi rasa cemburu dengan kehadiran si adik, karena dia akan merasa perhatian ibu tidak terbagi walaupun ada kedatangan adik kecil. Kebetulan ada salah satu teman saya dan juga seorang pendiri AIMI yang telah menuliskan kisahnya dengan menarik mengenai menyusui-tandem ini di link ini.

2. Menyapih dengan kasih adalah salah satu metode yang AIMI sarankan kepada para ibu menyusui. Dalam menyapih juga dibutuhkan kesiapan semua pihak dalam keluarga, dalam hal ini tidak hanya anak, namun juga ibu dan ayahnya. Mengapa? Karena perlu komitmen bersama dalam membantu proses penyapihan anak, karena ini merupakan salah satu proses yang tidak mudah bagi si anak dan tentunya bagi ibu sendiri.

Ibu bisa pertimbangkan untuk mengurangi sesi menyusui satua tau dua kali dalam satu hari dengan terus mengkomunikasikan ke anak bahwa ini saatnya ia untuk disapih. Ini juga menjawab pertanyaan ibu yang ketiga, suami bisa berperan dalam membantu anak untuk mengalihkan perhatiannya untuk menyusu dengan kegiatan lain seperti misalnya membaca buku sebelum tidur atau minum air di gelas ketika haus di malam hari. Ada satu tulisan menarik dari teman saya dan pengurus AIMI juga mengenai menyapih dengan kasih yang mudah-mudahan bisa menginspirasi Ibu Telly trik dalam menyiasati menyapih, tulisan tersebut bisa Ibu cek di link ini.


Semoga jawaban saya ini membantu Ibu Telly dan mohon maaf jika ada salah kata. Semoga kehamilannya lancar sampai proses melahirkan ya..

Salam menyusui,

Nia Umar, IBCLC

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau