Jalan-jalan

Menyatukan Betawi dalam Sebuah Warung

Kompas.com - 07/04/2012, 05:06 WIB

Oleh Andy Riza Hidayat

Kekayaan kuliner Betawi sungguh luar biasa. Bukan hanya sekadar rasa, melainkan juga cerita di baliknya. Kekayaan ini terwujud dalam aneka jajanan, minuman, hingga makanan berat. Tidak mudah mendapatkan semua sajian itu di satu tempat. 

Salah satu lokasi yang bisa menjadi pilihan adalah Warung Betawi Ngoempoel di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Depok, Jawa Barat.

Di warung ini, Anda dapat menemukan masakan sayur besan, gabus pucung, pecak ikan mas, bir pletok, semur jengkol, pepes peda, sambal blecon, sambal dengkek, sayur ciput, pepes lindung, dan beberapa makanan lain. Di warung ini juga tersedia sajian kekayaan budaya Betawi dalam wujudnya sebagai etnis.

Ada ondel-ondel laki-laki dan perempuan di pintu utama, lagu-lagu Betawi, delman, kursi rotan, kaca rias zaman dulu, serta rumah adat Betawi dengan teras luas.

”Warung ini kami dirikan karena banyak warung makan Betawi yang lokasinya terpisah-pisah. Saya harus keluyuran ke kampung-kampung untuk mencari masakan khas Betawi asli. Saya berpikir mengapa tidak disatukan saja di satu tempat,” tutur Nuroji, pemilik Warung Betawi Ngoempoel, Kamis (29/3), di Depok.

Sejak berdiri tahun lalu, warung ini mendapat respons positif sebagaimana terlihat dari penggemar kuliner Betawi yang rajin menyambangi. Salah satunya adalah Ida (42), guru di Tanah Baru yang datang bersama rekan seprofesinya.

Ida menggemari semur jengkol, gabus pucung, dan sayur besan. Diiringi irama musik Betawi, Ida larut dalam hidangan di atas meja makan. Semurnya, kata Ida, khas sekali sehingga dia harus mengambil nasi beberapa kali sebagai pendamping makan.

Ntar kita ngobrol lagi ya, ini lagi nanggung,” katanya sambil menunjuk hidangan yang tersaji.

Beberapa rasa masakan masih orisinal sesuai dengan masakan di rumah orang Betawi, seperti sayur asem isi oncom yang disantap dengan gabus kering serta sambal dengkek. Rasanya, hmmm….

Ada juga beberapa rasa masakan yang mengalami modifikasi agar dapat diterima pengunjung, terutama mereka yang enggan merasakan rasa tajam. Rasa ini dapat terlihat pada masakan pecak ikan mas. Ketajaman paduan bumbu asam, pedas, dan manis tidak terlalu muncul.

Senada dengan menu yang disajikan, masakan di Warung Betawi Ngoempoel merupakan masakan khas budaya pinggir. Budaya Betawi pinggir itu terwujud dalam makanan gabus pucung dan pecak ikan yang tidak menggunakan santan.

Tren merayakan rasa

Sejarawan dari Komunitas Bambu, JJ Rizal, mengatakan, saat ini sedang berkembang tren untuk merayakan rasa. Tren ini juga melanda penikmat kuliner Betawi yang membuat masakan tradisional ”naik pangkat”.

Menurut Rizal, ungkapan ini sebagai gambaran bahwa banyak orang tidak hanya memikirkan makanan dari segi rasa, yaitu memasukkan makanan dari mulut, lalu merasakannya, kemudian masuk ke perut.

Seiring dengan perkembangan tren, semakin banyak orang yang menikmati makanan sambil mendalami kekayaan budayanya.

”Hakikat dalam sebuah makanan, ada pemikiran dan cerita yang panjang,” katanya.

Simbol kebersamaan

Dia mencontohkan masakan semur andilan. Bagi orang Betawi, masakan ini memiliki makna mendalam karena merupakan simbol kebersamaan.

Orang hanya melihat makanan berwarna coklat ini dari sisi teknik pembuatannya yang khas. Padahal, sebelum tahun 1970-an, semur andilan hanya dapat dimakan pada acara adat.

Semur andilan dibuat berbulan-bulan sebelum dimasak, diawali dengan pembelian kerbau dengan dana patungan (andilan). Selain simbol kebersamaan, semur andilan merupakan simbol komunalisme budaya dunia.

Paling tidak ada lima budaya yang ikut meramu makanan dengan sumber bahan protein hewani ini, yaitu Eropa, Timur Tengah, India, China, dan Indonesia.

”Seharusnya makan tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga membuat pikiran kita bertambah kaya,” katanya.

Dia berharap rumah makan seperti ini menjadi pelopor untuk mengenalkan masakan tidak hanya dari rasa, tetapi juga dari kekayaan budaya di baliknya.

Lokasi Warung Betawi Ngoempoel dapat dijangkau dari arah Kelurahan Kukusan (barat kampus Universitas Indonesia di Depok), berbelok ke arah Sawangan setelah sampai di simpang empat Tugu Tanah Baru. Rumah makan terletak sekitar 30 meter dari perempatan itu, di sisi kiri jalan. Warung buka setiap hari mulai pukul 10.00 sampai pukul 20.00. Adapun harga masakan Rp 7.000- Rp 30.000 per porsi.

Tradisi nyahi

Salah satu tradisi dalam adat Betawi adalah nyahi, yang berarti meminum teh rasa pahit jambu sambil menghabiskan waktu dengan ngobrol.

Warung Betawi Ngoempoel juga memberikan fasilitas untuk nyahi di teras rumah adat yang luas. Teras rumah adat ini dapat menampung 30 orang sekaligus dengan suasana santai.

Untuk melakukan nyahi di warung ini tidak perlu bayar sebab pengelola menyajikan teh gratis dalam teko blurik, loyang seng, dan gelas seng.

Rizal menduga tradisi nyahi dipengaruhi tradisi masyarakat Tionghoa, yaitu meminum teh. ”Tradisi ini sekaligus perwujudan budaya Betawi yang kosmopolit, diwarnai beragam budaya bangsa-bangsa lain,” katanya.

Ada juga rumah adat Betawi di area Warung Betawi Ngoempoel. Rumah berbentuk panggung ini dapat dimanfaatkan untuk pertunjukan lenong, gambang kromong, kendang pencak, atau wayang kulit.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau