Sabar dan Saling Tolong

Kompas.com - 07/04/2012, 05:46 WIB

ambon, KOMPAS Perayaan Jumat Agung yang dilakukan umat Kristiani di sejumlah daerah berjalan lancar, Jumat (6/4). Semua gereja menggelar prosesi Jalan Salib mengenang kisah sengsara Yesus. Umat Kristiani juga diingatkan bahwa Jalan Salib harus dimaknai sebagai titik awal perubahan dan pertobatan.

Uskup Agung Merauke, Papua, Mgr Nicolaus Adi Seputra MSC, mengatakan, melalui peristiwa wafat di kayu salib, Yesus memberi contoh gerakan anti-kekerasan. ”Meski harus dihina, disiksa, dan dicaci, diterima-Nya dengan penuh kesabaran. Umat Katolik harus mengembangkan sikap ini disertai saling menolong sesama manusia dan menjadi titik awal pertobatan,” ujarnya dalam misa Jumat Agung di Gereja Katedral Merauke.

Di Ambon, prosesi Jalan Salib dipimpin Uskup Diosis Ambonia Mgr PC Mandagi MSC, mulai dari Gereja Katedral di Jalan Pattimura, sekitar pukul 10.00. Prosesi selama dua jam itu melewati sejumlah ruas jalan utama di Ambon dan berakhir di Gereja Santa Maria Bintang Laut di kawasan Benteng, Ambon.

Hadir pula Wakil Gubernur Maluku Said Assagaf, Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy, serta Kapolres Ambon dan Pulau-pulau Lease Ajun Komisaris Besar Suharwiyono. ”Prosesi Jalan Salib menjadi salah satu cara membangun masyarakat Maluku yang lebih religius dan damai guna lebih mempererat persaudaraan antarumat,” ujar Said Assagaf dalam sambutannya.

Perayaan Jumat Agung di Kupang, NTT, juga berlangsung tertib dan aman. Sengatan matahari pada siang itu tidak menghalangi umat Kristiani setempat mengikuti prosesi Jalan Salib.

Tanam pohon gaharu

Yang unik, prosesi Jalan Salib yang dilakukan umat Katolik Gereja Santo Petrus Kanisisus Lor Senowo di Dusun Grogol, Desa Mangunsuko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Umat berjalan kaki selama satu jam mengelilingi dusun dan menyusuri Kali Senowo. Di setiap titik pemberhentian, umat menanam bibit pohon gaharu.

Susanto, tokoh Muda-mudi Katolik Gubug Selo Merapi, mengatakan, bibit pohon gaharu sengaja dipilih sebagai simbol dari pengorbanan Yesus. ”Pohon gaharu hanya mengeluarkan aroma sedap ketika batangnya dilukai, sama seperti Yesus yang rela mengorbankan nyawa demi kebahagiaan umat manusia di dunia,” ujarnya.

Terkait pengamanan, hampir semua gereja di Surabaya mendapat pengawalan dari 600-an personel polrestabes dan polsek. Kepolisian Resor Kota Tasikmalaya juga menurunkan 300 personel dibantu 200 anggota TNI dan satpol PP. Bahkan, Polresta Manado mengerahkan 1.000 personel polisi guna mengamankan 200 gereja di wilayah itu. Polresta Tangerang juga menerjunkan sekitar 358 petugas untuk menjaga lokasi-lokasi perayaan Paskah. Polda Sumatera Utara mengerahkan 1.600 personel dan Polda Kalimantan Tengah (Kalteng) 3.840 personel.

Di Palangkaraya, Kalteng, aparat menggunakan 60 sepeda untuk memantau perayaan Paskah. ”Petugas berkeliling kota berdialog dengan pengurus gereja,” kata Kapolda Kalteng Brigjen Bachtiar Hasanudin Tambunan.

(ILO/ETA/RWN/WSI/CHE/ZAL/BAY/APA/KOR/EGI/PIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau