JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan jajaran kepolisian dan aparat terkait lainnya untuk melakukan pengejaran terhadap penembak pesawat perintis jenis Twin Otter yang dioperasikan PT Trigana Air, Minggu (8/4/2012) di Kabupaten Puncak Jaya, Papua. Kepala Negara meminta penembakan pesawat yang hendak mendarat di Bandara Mulia ini segera dituntaskan.
"(Penembakan) ini tidak bisa dibenarkan. Ini bisa membuat psikologi masyarakat, khususnya di pedalaman, tidak baik. Itu yang harus dicegah. Jadi, mereka harus tetap mempunyai rasa aman untuk beraktivitas meski ini di pedalaman," kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha kepada wartawan, Senin (9/4/2012) di Kantor Presiden, Jakarta.
Menurut Julian, rentetan tembakan yang menyebabkan seorang penumpang, Lerion Kogoya, wartawan Pasific Post, tewas setelah lehernya tertembus peluru merupakan bukti bahwa Papua belum aman. Masih banyak kelompok yang memiliki senjata.
"Kita tahu Papua membutuhkan pengamanan khusus untuk membuat kondisi menjadi lebih kondusif. Untuk melakukan penertiban dan pengamanan, dibutuhkan hal khusus. Kalau perlu, unsur-unsur yang bisa melakukan tugas secara tepat, proper, dan tegas dilibatkan," kata Julian.
Ketika ditanya kemungkinan adanya penambahan pasukan TNI di Papua, Julian tak menjawabnya secara tegas. Julian hanya mengatakan, Presiden pernah menginstruksikan bahwa jumlah pasukan TNI tak boleh terlampau banyak. Selain satu orang korban tewas, penembakan ini melukai empat orang. Mereka adalah kapten pilot Beby Astek (40), kopilot Willy Resubun (30), serta dua penumpang, Yanti (30) dan P Korwa (4).
Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua Ajun Komisaris Besar Johannes Nugroho Wicaksono mengatakan, pesawat tersebut terbang dari Nabire menuju Mulia. Pesawat dengan nomor registrasi PK-YRF itu ditembaki saat hendak mendarat di Bandara Mulia. Tembakan membuat pilot tidak dapat mendaratkan pesawat dengan sempurna sehingga menabrak gudang di pinggir bandara.
Menurut Manajer Trigana Air Wilayah Papua Bustomi, penembakan yang mengakibatkan pesawat menabrak gudang itu membuat bagian depan pesawat rusak. Awak pesawat dan penumpang lain dapat diselamatkan dan kemudian dievakuasi.
Akibat penembakan itu, proses distribusi barang ke Puncak Jaya dan kegiatan kemanusiaan lain terganggu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang