Lama Tinggal Wisatawan di Yogya Belum Mencapai 3 Hari

Kompas.com - 09/04/2012, 15:22 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Lama tinggal wisatawan di Kota Yogyakarta selama tiga bulan pertama 2012 masih belum mencapai lebih dari tiga hari, yaitu rata-rata baru 2,3 hari. "Rata-rata baru 2,3 hari. Lama tinggal wisatawan di Yogyakarta ini pun lebih rendah dibanding Bandung yang telah mencapai sekitar tiga hari," kata Kepala Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) Deddy Pranawa Eryana di Yogyakarta, Minggu (7/4/2012).

Menurut Deddy, meskipun jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Yogyakarta lebih banyak dibanding jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung, namun kurangnya inovasi tujuan wisata di Yogyakarta menyebabkan wisatawan tidak perlu berlama-lama tinggal.

Deddy mengatakan, Yogyakarta yang telah lama dikenal dengan wisata budaya, bisa juga mengembangkan terobosan baru dalam industri pariwisata, seperti wisata belanja karena Yogyakarta juga memiliki pasar yang sudah cukup terkenal yaitu Beringharjo. "Beringharjo bisa digarap sedemikian rupa dan kemudian ditawarkan sebagai tempat wisata belanja yang menarik kepada wisatawan. Jika bisa dikemas dengan baik, maka saya yakin, tidak akan kalah dengan kota-kota lain," katanya.

Selain itu, lanjut dia, pelaku pariwisata yang ada di Yogyakarta, mulai dari pemerintah daerah hingga pramuwisata, juru parkir, kusir andong atau pengemudi becak juga memiliki kesadaran bahwa lokomotif utama ekonomi di Yogyakarta adalah dari dunia pariwisata.

"Pelaku pariwisata jangan sampai mengecewakan wisatawan yang datang. Misalnya saja dengan menaikkan tarif parkir atau sengaja menawarkan jasa dengan harga murah tetapi mewajibkan wisatawan menuju ke suatu tempat yang tidak sesuai dengan keinginan wisatawan," katanya.

Kondisi tersebut, lanjut Deddy, berpotensi merusak citra pariwisata di Yogyakarta dan bisa mengakibatkan tidak berkembangnya industri pariwisata di Kota Yogyakarta.

"Berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah di Provinsi DIY juga hingga pelaku wisata di kabupaten lain juga harus bersinergi untuk menawarkan potensi wisata yang ada. Kerja sama ini penting, karena jangan sampai wisatawan tidak memperoleh sesuatu yang baru saat berkunjung ke Yogyakarta," katanya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik DIY, lama tinggal wisatawan di Yogyakarta pada Februari justru mengalami penurunan dibanding Januari, yaitu menjadi 1,68 hari dari 1,87 hari.

Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta, Istidjab Danunagara mengatakan, obyek wisata yang masih terbatas menyebabkan wisatawan hanya memerlukan waktu satu hari saja untuk mengunjungi obyek wisata yang ada.

Obyek wisata yang masih menjadi favorit wisatawan saat berkunjung ke Yogyakarta adalah Candi Prambanan, Candi Borobudur, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Malioboro. "Ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan di Yogyakarta seperti menawarkan berbagai even budaya di malam hari seperti pementasan Sendratari Ramayana," katanya.

Selain itu, lanjut Deddy, pihaknya akan mencoba menawarkan paket wisata melihat matahari terbit di Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yulia Rustiyaningsih mengatakan, libur panjang akhir pekan biasanya cukup mampu mendongkrak kunjungan wisatawan ke Kota Yogyakarta. "Hal itu bisa dilihat dari volume kendaraan yang semakin meningkat di beberapa obyek wisata seperti Malioboro," katanya.

Namun demikian, Yulia tidak memungkiri apabila meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan tersebut juga menyebabkan munculnya berbagai masalah seperti kemacetan dan parkir kendaraan. "Kami akan terus berkoordinasi agar masalah-masalah tersebut dapat diantisipasi di masa yang akan datang," katanya.

Mengenai inovasi di dunia pariwisata, Yulia mengatakan, bahwa Yogyakarta mulai mengembangkan pariwisata berbasis wilayah melalui kampung wisata. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau