Gaya kepemimpinan

Kultur Korporasi di BUMN

Kompas.com - 10/04/2012, 04:14 WIB

Sosok Dahlan Iskan, yang pada saat baru masuk sebagai Dirut PLN diragukan kemampuannya, kini dalam posisinya sebagai Menteri BUMN menjadi salah satu figur fenomenal. Oleh karena itu, tidak heran bila sebagian orang menilai Dahlan sebagai pribadi yang nyeleneh. Ke mana-mana Dahlan menggunakan sepatu olahraga.

Sama ketika hendak menjadi Dirut PLN, saat dilantik menjadi Menteri BUMN pada Oktober 2011, Dahlan juga mengumumkan bahwa dirinya tidak akan menggunakan fasilitas mobil dan rumah dinas. Bahkan, sebagai Menteri BUMN, dia menghapuskan jabatan staf khusus.

Dahlan juga tidak membutuhkan pengawalan polisi meski arus lalu lintas macet sehingga tidak heran bila dia sering naik kereta rel listrik (KRL) dan menggunakan jasa ojek jika sudah kepepet waktu jika hendak rapat bersama Presiden.

”Kalau saya terbang dengan Citilink atau naik KRL dan kereta ekonomi, bukan untuk sok sederhana, melainkan bagian dari keinginan saya untuk menyelami kultur yang lagi berkembang di semua unit usaha (BUMN),” kata Dahlan dalam bukunya, Ganti Hati: Tantangan Menjadi Menteri.

Komitmen dan sebagian gaya kepemimpinan Dahlan ini menular kepada sebagian direksi BUMN. Misalnya, empat orang direksi PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) ini tidak menggunakan fasilitas mobil dinas.

Dalam perjalanan dinas, mereka juga tidak lagi menggunakan tiket kelas bisnis, tetapi kelas ekonomi. Sementara fasilitas rumah dinas PT RNI di Jalan Tirtayasa, yang seharusnya bisa dinikmati Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro, lebih difungsikan sebagai mes bagi para direksi anak-anak perusahaan RNI kalau mereka sedang bertugas ke Jakarta.

Sebenarnya, tidak ada paksaan bagi direksi untuk tidak menggunakan fasilitas tersebut. Namun, direksi kompak untuk menanggalkan fasilitas tersebut, apalagi RNI termasuk salah satu BUMN yang bermasalah dan terus merugi. Tahun 2011, kerugian RNI mencapai Rp 34 miliar.

Sementara anggaran yang bisa dihemat dari fasilitas yang tidak dimanfaatkan direksi RNI mencapai Rp 12 miliar per tahun. Perusahaan BUMN ini memiliki anak-anak perusahaan yang bergerak dalam industri gula, alat-alat kesehatan dan obat-obatan, kelapa sawit, serta produk pertanian lainnya.

Penghematan lain adalah dengan memindahkan kantor ke pabrik gula. Seperti di pabrik gula PT Rajawali I di Surabaya dipindahkan ke Malang, Jawa Timur. Demikian juga kantor PT Rajawali II di Cirebon dipindahkan ke Jati Tujuh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Pemindahan kedua kantor tersebut bisa menghemat anggaran Rp 35 miliar per tahun. Selanjutnya, kedua kantor itu akan dibangun hotel dan rumah sakit sehingga bisa memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Gaji dan fasilitas eksekutif BUMN sebenarnya tidak kalah dengan swasta. Kemampuannya juga sudah sama dengan swasta. Namun, budaya organisasi masih berbeda. Di BUMN, pembentukan kultur korporasi yang sehat masih sering terganggu oleh budaya saling incar jabatan. Sebagian eksekutif BUMN tidak jarang menggunakan backing dari dalam dan luar untuk mengincar jabatan di BUMN. (TJAHJA GUNAWAN DIREDJA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau