Rotan Berganti Pandan

Kompas.com - 10/04/2012, 04:15 WIB

GRESIK, KOMPAS - Penutupan ekspor rotan mentah pada Januari 2012 ternyata tidak serta- merta menggairahkan industri rotan di sejumlah daerah termasuk di Gresik, Jawa Timur. Pengusaha rotan kini malah kesulitan memperoleh bahan baku. Situasi ini juga relevan dengan seretnya pasokan rotan ke gudang bahan baku di Cirebon, Jawa Barat.

Kesulitan memperoleh bahan baku rotan, mendorong beberapa pelaku usaha di Desa Domas, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, mencari bahan baku pengganti yakni daun pandan.

Utomo, pemilik usaha keranjang ikan dari rotan di Desa Domas, Gresik, Senin (9/4), mengungkapkan, ia sudah mengirim contoh produk ke Korea, berupa keranjang ikan dari daun pandan. ”Langkah ini sebagai antisipasi jika rotan terus menghilang di pasaran,” kata Utomo.

Tentang sulitnya bahan baku, M Taufik Gani, pemilik usaha mebel rotan, mengungkapkan, harga rotan semipoles naik dari Rp 9.500 menjadi Rp 13.000 per kilogram. Adapun rotan poles naik dari Rp 12.000 menjadi Rp 16.000 per kg. Kenaikan harga berkisar 30-40 persen. ”Saya pesan 40 ton hanya dipenuhi 10 ton,” ujarnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, Budi Setiawan, mengatakan, regulasi penghentian ekspor rotan berdampak kurang baik terhadap industri rotan.

Sulitnya memperoleh bahan baku dikeluhkan pengusaha mebel rotan di Solo, Jawa Tengah, kepada Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Syarifuddin Hasan, Senin. Supriyadi, pengusaha rotan di Trangsan, Sukoharjo, mengungkapkan, pada tahun 2007, ia memiliki 410 pekerja dengan volume ekspor 300 kontainer per bulan. Kini, pekerjanya hanya tinggal 120 orang dengan volume ekspor hanya 50-70 kontainer per bulan. ”Kalau bahan baku tidak ada bagaimana kami bisa berproduksi untuk ekspor,” kata Supriyadi.

Sementara itu, suplai bahan baku untuk industri kerajinan rotan Cirebon, Jawa Barat, kian seret. Kekosongan bahan baku terpantau di Kompleks CV Sulawesi Jaya, salah satu penyedia bahan baku rotan di Cirebon.

Mesin penyerut rotan tidak dioperasikan karena tidak ada bahan baku rotan batangan yang dikirim dari Sulawesi. Pekerja penyerut pun diliburkan. Kondisi ini berbeda jauh dengan lima bulan lalu saat pemerintah belum menutup ekspor bahan baku.

(ETA/ACI/REK/EKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau