Kesulitan memperoleh bahan baku rotan, mendorong beberapa pelaku usaha di Desa Domas, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, mencari bahan baku pengganti yakni daun pandan.
Utomo, pemilik usaha keranjang ikan dari rotan di Desa Domas, Gresik, Senin (9/4), mengungkapkan, ia sudah mengirim contoh produk ke Korea, berupa keranjang ikan dari daun pandan. ”Langkah ini sebagai antisipasi jika rotan terus menghilang di pasaran,” kata Utomo.
Tentang sulitnya bahan baku, M Taufik Gani, pemilik usaha mebel rotan, mengungkapkan, harga rotan semipoles naik dari Rp 9.500 menjadi Rp 13.000 per kilogram. Adapun rotan poles naik dari Rp 12.000 menjadi Rp 16.000 per kg. Kenaikan harga berkisar 30-40 persen. ”Saya pesan 40 ton hanya dipenuhi 10 ton,” ujarnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, Budi Setiawan, mengatakan, regulasi penghentian ekspor rotan berdampak kurang baik terhadap industri rotan.
Sulitnya memperoleh bahan baku dikeluhkan pengusaha mebel rotan di Solo, Jawa Tengah, kepada Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Syarifuddin Hasan, Senin. Supriyadi, pengusaha rotan di Trangsan, Sukoharjo, mengungkapkan, pada tahun 2007, ia memiliki 410 pekerja dengan volume ekspor 300 kontainer per bulan. Kini, pekerjanya hanya tinggal 120 orang dengan volume ekspor hanya 50-70 kontainer per bulan. ”Kalau bahan baku tidak ada bagaimana kami bisa berproduksi untuk ekspor,” kata Supriyadi.
Sementara itu, suplai bahan baku untuk industri kerajinan rotan Cirebon, Jawa Barat, kian seret. Kekosongan bahan baku terpantau di Kompleks CV Sulawesi Jaya, salah satu penyedia bahan baku rotan di Cirebon.
Mesin penyerut rotan tidak dioperasikan karena tidak ada bahan baku rotan batangan yang dikirim dari Sulawesi. Pekerja penyerut pun diliburkan. Kondisi ini berbeda jauh dengan lima bulan lalu saat pemerintah belum menutup ekspor bahan baku.