Bilateral

Syarat Utama, Konflik Mereda

Kompas.com - 10/04/2012, 16:16 WIB
KOMPAS.com - Perdana Menteri Kamboja Hun Sen menegaskan meredanya konflik perbatasan pihaknya dengan Thailand adalah syarat utama peningkatan hubungan perdagangan bilateral.  "Sekarang, situasi perbatasan telah banyak membaik, tidak ada ketegangan militer," katanya saat peresmian jalan nasional Nomor 68 di Provinsi Siem Reap sebagaimana warta OANA pada Selasa (10/4/2012).
   
Perdana menteri mengatakan syarat itu adalah waktu bagi kedua negara untuk mulai berpikir tentang cara-cara  mempromosikan perdagangan bilateral.
   
Hun Sen lebih lanjut mengingatkan bahwa di sela-sela KTT ASEAN yang ke-20 di Phnom Penh pekan lalu, ia telah membahas dengan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra tentang promosi perbatasan perdagangan antara kedua negara. Menurut Hun Sen, Yingluck setuju dengannya bahwa perdagangan bilateral harus ditingkatkan.
   
Dia juga menyarankan menteri perdagangan Thailand untuk membahas dengan timpalannya dari  Kamboja tentang masalah ini. "Pertukaran barang-barang dengan satu sama lain lebih menguntungkan dibandingkan pertukaran peluru," kata Hun Sen, sambil menyebutkan bahwa  pertukaran tembakan tahun lalu antara tentara kedua negara pada Februari dan April yang merenggut nyawa pasukan dan warga sipil di kedua pihak.
   
Dia mengatakan Kamboja ingin membangun perbatasan perdamaian, kerja sama persahabatan, dan pengembangan dengan Thailand seperti yang telah dilakukan dengan Vietnam dan Laos.
   
Konflik perbatasan sengit antara Kamboja dan Thailand meletus hanya sepekan  setelah UNESCO menyetujui permohonan  Kamboja untuk memiliki kuil Preah Vihear yakni Situs Warisan Dunia pada 7 Juli 2008.
   
Pengadilan Mahkamah  Internasional (ICJ) memberikan tebing yang terletak Kuil Preah Vihear kepada Kamboja pada 15 Juni 1962, tetapi Thailand mengklaim kepemilikan 4,6 kilometer persegi lahan sebelah kuil.
   
Pada 28 April 2011, Kamboja mengajukan permohonan kepada ICJ untuk interpretasi penilaian pada tahun 1962 atas candi kuno itu. Hal ini disertai dengan satu permintaan mendesak untuk tindakan sementara di mana Kamboja menuntut Thailand segera dan tanpa syarat  menarik pasukan dari daerah sekitar reruntuhan.
   
Selama interval menunggu penafsiran putusan, ICJ memerintahkan Kamboja dan Thailand pada  18 Juli 2011 untuk segera menarik personel militer mereka dari Zona Demiliterisasi Sementara 17 kilometer (PDZ) di perbatasan yang disengketakan dekat kuil dan memungkinkan pengamat ASEAN untuk memasuki  ke PDZ untuk memantau gencatan senjata.
   
Sejauh ini, baik Kamboja maupun Thailand telah menarik pasukannya dari daerah itu. "Kami membiarkan ICJ melanjutkan penilaiannya mengenai daerah yang disengketakan, dan kedua pemerintah harus menemukan cara untuk meningkatkan perdagangan bilateral," kata Hun Sen
   
Nilai perdagangan bilateral antara Kamboja dan Thailand pada 2011 adalah  3,08 miliar dollar AS. Angka ini naik 21 persen dari tahun sebelumnya, menurut statistik yang disediakan oleh kedutaan Thailand di Phnom Penh.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau