Kontak Senjata Berlanjut

Kompas.com - 11/04/2012, 04:13 WIB

Kairo, Kompas - Aksi kekerasan berlanjut di Suriah meski batas waktu berakhirnya kontak senjata dan dimulainya gencatan senjata berlaku hari Selasa (10/4). Televisi Alarabiya memberitakan, tank pasukan pemerintah, Selasa pagi, menggempur kota Homs dan wilayah pedesaan dekat Aleppo. Tank juga lalu lalang di jalan raya kota Hama.

Sejumlah tank juga terlihat di distrik Doma, kota Damaskus. Saksi mata yang dikutip televisi Alarabiya mengungkapkan, armada tank untuk pertama kalinya terlihat masuk jantung kota Damaskus. Tank-tank juga mengepung desa-desa yang berdekatan dengan perbatasan Israel.

Sumber itu mengungkapkan, lebih dari 20 tank, kendaraan lapis baja, dan truk pengangkut pasukan diparkir di distrik Kafr Sosah, Al-Dahadil, Al-Qadam, dan Nahr Sishah di kota Damaskus. Pasukan pemerintah dilaporkan menangkapi lebih dari 400 pemuda di distrik-distrik tersebut.

Baku tembak antara pasukan pemerintah dan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) juga dilaporkan terjadi pada Selasa dini hari di wilayah dekat perbatasan dengan Lebanon dan Turki.

Solusi damai

Seperti dimaklumi, kesepakatan utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Liga Arab untuk Suriah, Kofi Annan, serta otoritas Suriah adalah pasukan pemerintah dan senjata beratnya akan ditarik dari kota-kota dan desa-desa selambat-lambatnya 10 April. Kesepakatan ini termasuk bagian pelaksanaan usulan solusi Kofi Annan yang terdiri dari enam butir.

Penarikan pasukan ini diikuti dengan gencatan senjata menyeluruh antara pasukan pemerintah dan FSA selama 48 jam sejak penarikan pasukan pemerintah dan senjata beratnya dari kota-kota itu.

Akan tetapi, Menteri Luar Negeri Suriah Walid Moallem dalam jumpa pers bersama Menlu Rusia Sergei Lavrov, Selasa, di Moskwa, menegaskan, Suriah lebih ingin terwujudnya gencatan senjata secara abadi dengan kehadiran tim monitor PBB. Ia mengungkapkan telah menyampaikan kepada Menlu Rusia bahwa kepentingan Suriah adalah terhentinya aksi kekerasan oleh semua pihak dalam semua bentuknya.

Menurut Moallem, Suriah bekerja dan mendukung usulan solusi Annan dengan niat baik dan mengizinkan tim monitor PBB hadir di Suriah. Namun, Suriah harus punya hak berpendapat atas negara-negara yang akan mengirim tim monitor itu.

Menlu Suriah lalu mengklaim, sebagian mesin militer telah ditarik dari beberapa provinsi sebagai bagian dari pelaksanaan atas usulan solusi Kofi Annan.

Moallem juga meminta utusan khusus PBB-Liga Arab, Kofi Annan, memberi jaminan atas komitmen kelompok bersenjata menghormati gencatan senjata.

Moallem menegaskan, otoritas Suriah tidak meminta jaminan langsung dari kelompok bersenjata yang telah membunuh, menyandera, dan menghancurkan infrastruktur, tetapi hanya meminta jaminan dari Kofi Annan sendiri.

Menlu Suriah itu mengklaim, Kofi Annan—dalam pembicaraan telepon dengannya—telah berjanji akan melucuti senjata kelompok bersenjata setelah terwujud gencatan senjata.

Pelanggaran batas

Di Beijing, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan kepada wartawan kemarin menegaskan, penembakan dari wilayah Suriah ke kamp pengungsi Suriah di Turki merupakan pelanggaran terhadap batas negara kedua negara itu.

Menurut Erdogan, seperti dikutip kantor berita Turki Anatolia, telah terjadi pelanggaran yang jelas terhadap perbatasan kedua negara. Otoritas Turki akan menyelidiki serta mengambil tindakan semestinya akibat pelanggaran tersebut.

Ia menegaskan, Turki akan bergerak seperti negara lain sesuai dengan hukum internasional.

Namun, Erdogan tidak menjelaskan bentuk tindakan yang akan diambil terhadap Suriah itu. Selama ini Turki sering mengisyaratkan akan membangun zona penyangga di perbatasan Turki-Suriah.

Seperti diketahui, pasukan pemerintah hari Senin lalu menembaki kamp pengungsi Suriah di wilayah Turki yang membawa korban luka-luka dua pengungsi dan seorang penerjemah Turki.

(mth)

Pasukan pemerintah dilaporkan menangkapi lebih dari 400 pemuda di distrik-distrik tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau