JAKARTA, KOMPAS.com - Bakal calon Wakil Gubernur DKI Jakarta dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Gerindra yaitu Basuki Tjahaja Purnama menekankan bahwa sudah bukan zamannya lagi membedakan seseorang dari suku, ras atau agama.
"Saya tidak suka ada perbedaan pribumi dan non pribumi. Sudah ada undang-undangnya kalau semua itu orang Indonesia. Saya ini orang Indonesia asli," tegas Ahok, sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama, ketika bersilaturahmi dengan Persatuan Tionghoa Indonesia Raya (Petir) di Kota, Rabu (11/4/2012).
Ia mengungkapkan bahwa apa pun suku, ras dan agama mempunyai hak yang sama untuk memberikan kontribusi yang baik pada Jakarta. Sehingga ia menekankan agar hal semacam itu jangan dijadikan masalah. "Mau Tionghoa, Jawa, Betawi itu sama. Jangan berpikir jadul, ini zaman udah berubah. Tidak ada beda Tionghoa dan non Tionghoa. Jangan lihat saya punya warna kulit tapi lihat teruji atau tidaknya," jelas Ahok.
Ia juga mengatakan bahwa jangan memilih gubernur dan wagub hanya berdasarkan alasan persamaan ras, suku dan agama. Namun harus mempertimbangkan yang sudah baik teruji karena Pilkada DKI Jakarta 2012 ini adalah pertaruhan untuk lima tahun ke depan. "Jangan karena Tionghoa terus pilih saya. Beneran deh. Tapi lihat baik-baik. Karena kalau nggak bisa menderita lima tahun ke depan," tandasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang