Persidangan

Miranda Disebut Sering ke Rumah Nunun

Kompas.com - 12/04/2012, 04:04 WIB

Jakarta, Kompas - Tiga saksi meringankan yang dihadirkan terdakwa Nunun Nurbaeti membeberkan kedekatan Nunun dengan mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom.

Dalam sidang kasus dugaan suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (11/4), Miranda disebut sering datang ke rumah Nunun.

Saksi Rietje Selamet, pengusaha katering yang menjadi langganan Nunun, menuturkan, Miranda selalu datang setiap istri mantan Wakil Kepala Polri Adang Daradjatun itu mengadakan acara. ”Suka lihat Ibu Miranda kalau ada kegiatan-kegiatan,” kata Rietje.

Saat pengacara Nunun, Mulya Harja, bertanya bagaimana keakraban Miranda dengan kliennya itu, Rietje mengatakan cukup akrab. ”Suka cipika cipiki (cium pipi kanan dan kiri),” katanya.

Saksi Lini Suparni, kepala pengurus rumah tangga Nunun, mengatakan, Miranda pernah datang ke rumah majikannya awal 2004 atau sebelum pemilihan Deputi Gubernur Senior BI.

Lini menyebutkan, Nunun dan Miranda pernah mengadakan pembicaraan yang cukup lama di perpustakaan. Lini mengaku tak tahu apa yang mereka bicarakan.

Sopir pribadi Nunun, Samid, mengatakan hal serupa. Menurut Samid, Miranda sering datang ke rumah majikannya di Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan. Bahkan, karena sering datang ke rumah Nunun, Samid mengaku mengenal sopir pribadi Miranda yang sering mengantar majikannya itu.

Keterangan ketiga saksi tersebut menegaskan keterangan Nunun dalam persidangan sebelumnya yang menyatakan dia sangat akrab dan menganggap Miranda selayaknya kerabat.

Nunun saat itu bersumpah, Miranda menelepon dirinya untuk diperkenalkan dengan sejumlah anggota DPR. Tujuannya, agar diloloskan dalam uji kelayakan dan kepatutan sebagai Deputi Gubernur Senior BI.

Pada persidangan yang sama, jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi kembali mengorek keterangan saksi ihwal sosok perempuan bernama Indah. Saat ditanya jaksa apakah mengenal Indah, Samid menjawab kenal. ”Dia HRD PT Wahana Esa,” ujar Samid.

PT Wahana Esa Sembada adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit milik Nunun. (bil)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau