Penyair Internasional Doakan Masyarakat Aceh

Kompas.com - 12/04/2012, 21:59 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com--Puluhan penyair internasional dan nasional yang menghadiri puncak acara Forum Penyair Internasional Indonesia (FPII) 2012 di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jatim, Surabaya, Rabu malam, mengheningkan cipta untuk mendoakan masyarakat Aceh yang diguncang gempa.

"Mari kita berdiri dan menundukkan kepala, kita berdoa sesuai keyakinan untuk masyarakat Aceh yang diguncang gempa," kata pembawa acara dalam acara puncak FPII-2012, Sabrot D Malioboro, yang memimpin acara mengheningkan cipta selama beberapa menit itu.

Setelah itu, acara diawali dengan sambutan wakil dari pejabat Pemprov dan Pemkot, lalu pemotongan tumpeng yang dilakukan penggagas acara FPII-2012 di Surabaya, Hengky Kurniadi, yang diberikan kepada koordinator penyair internasional Duddy Anggawi, kemudian para penyair melakukan pembacaan puisi secara bergantian.

Dalam acara yang dihadiri 17 penyair internasional dari 10 negara dan 26 penyair dari berbagai kota di Indonesia itu sempat diwarnai keributan kecil akibat adanya penonton yang suka melontarkan komentar seenaknya, lalu koordinator penyair internasional Duddy Anggawi dan rekannya Salabi menegur penonton itu.

Tapi, tiba-tiba penonton yang ditegur itu memukul Duddy Anggawi dan Salabi, sehingga aparat keamanan acara itu pun bertindak cepat dengan mengeluarkan seorang penonton yang berbuat ulah dan diduga mabuk itu, sedangkan pementasan musik Sirkus Barock oleh Sawung Jabo tetap berlangsung.

Duddy Anggawi yang terluka pun kembali ke hotel dengan diikuti belasan penyair asing, sebab Duddy Anggawi merupakan koordinator penyair asing, sehingga ketika dia kembali ke hotel, maka semua penyair harus kembali ke hotel secara bersamaan, namun acara pementasan di Gedung Cak Durasim tidak dihentikan.

Acara pembacaan puisi yang menandai acara puncak FPII-2012 di Kota Surabaya itu diawali penampilan Fikar W Eda (Indonesia) yang membacakan puisi berjudul "Nyeri Aceh" yang mendapat applaus ratusan budayawan, seniman, dan pemerhati seni yang memadati gedung berkapasitas 300-an orang itu.

Penampilan Fikar dilanjutkan dengan penampilan penyair Ulrike Draesner dari Jerman yang membacakan puisi sembari melakukan gerakan ala tarian balet, lalu penyair Selandia Baru, Courtney Sian Meredith, yang membacakan puisi tentang maut.

Selanjutnya, penyair yang membacakan puisi adalah Arne Rautenberg (Jerman), Gerdur Kristny (Irlandia), John Waromi (Papua/Indonesia), Adam Wuedewitsch (Amerika Serikat), Sarah Holland-Batt (Australia), Akhudiat (Jatim/Indonesia), Martin Glaz Serup (Denmark), Mbali Bloom (Afrika Selatan), Aslan Abidin (Indonesia), dan sebagainya.

Para penyair lintas negara dari Indonesia, Jerman, Irlandia, Amerika, Australia, Denmark, Afrika Selatan, Belanda, Zimbabwe, dan Macedonia itu umumnya membacakan puisi yang dibukukan oleh penggagas acara Henky Kurniadi berjudul "What’s Poetry?" dan mereka umumnya memuji publik Surabaya yang dinilai antusias dan apresiatif.

Ada beberapa penyair yang membacakan puisi terbaru, di antaranya Akhudiat. Dalam acara puncak FPII-2012 itu, Akhudiat membacakan puisi terbaru berjudul "Epigram-epigram" yang isinya menyindir anggota DPR.

"Dewan Perwakilan Rakyat adalah wakil rakyat, kalau rakyat ingin mobil mewah, rumah mewah, pekerjaan, sudah diwakili wakil rakyat. Kalau mau korupsi, berbohong, dan berdosa pun sudah diwakili wakil rakyat, masuk neraka pun diwakili wakil rakyat," katanya, disambut applaus hadirin.

Kedatangan para penyair yang mengikuti FPII-2012 itu disambut Wali Kota Surabaya saat datang dari Malang ke Surabaya pada 10 April 2012 pukul 12.00 WIB, lalu mereka mengunjungi Galeri Seni HoS Sampoerna dan Tugu Pahlawan.

Pada hari kedua (11/4), mereka berdiskusi tentang puisi di Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya, keliling kota di Kampung Ampel, dan akhirnya menggelar parade puisi di Gedung Cak Durasim Surabaya.

Untuk hari ketiga (12/4), para penyair akan membaca puisi di Universitas Katholik Widya Mandala (UKWM) Surabaya dan berlayar dengan kapal milik Pelindo, lalu hari terakhir (13/4) menulis kesan tentang Surabaya dan akhirnya ke Bandara Juanda untuk pulang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau