Suriah

Aksi Saling Serang Mendadak Terhenti

Kompas.com - 13/04/2012, 04:17 WIB

Kairo, Kompas - Kota-kota dan pedesaan Suriah, Kamis (12/4), mendadak tenang seiring dengan berlakunya gencatan senjata mulai pukul 06.00 waktu setempat pada hari yang sama. Gencatan senjata merupakan bagian dari implementasi atas solusi yang diarahkan utusan khusus PBB dan Liga Arab untuk Suriah, Kofi Annan.

Kementerian Pertahanan Suriah menegaskan akan menghentikan operasi militer mulai Kamis pagi. Namun, pasukan akan membalas jika ada serangan dari kelompok, yang disebut pemerintah teroris bersenjata, merujuk pada serangan oposisi.

Tentara Pembebasan Suriah (FSA), sayap militer kubu oposisi, menyatakan akan melaksanakan gencatan senjata mulai Kamis.

Akan tetapi, menurut televisi Alarabiya, tank-tank, kendaraan lapis baja, penembak jitu, dan pos-pos pemeriksaan militer masih disebar di sebagian besar kota. Suara tembakan sesekali terdengar di sekitar kota Idlib.

Anggota koordinasi revolusi di kota Homs, Muhammad Abu al-Fada, mengungkapkan, kota Homs tenang sejak berlakunya gencatan senjata. Namun, puluhan tank dan kendaraan lapis baja masih mengepung Homs, kota yang paling berdarah sejak meletusnya revolusi Suriah, Maret 2011.

Ketua Dewan Nasional Suriah (SNC) Burhan Ghalioun meminta rakyat Suriah menggelar aksi unjuk rasa damai di seantero negeri. Ghalioun menegaskan, hak rakyat menggelar unjuk rasa damai dijamin undang-undang. Ia meminta negara-negara yang mendukung usulan solusi Kofi Annan menjamin perlindungan rakyat dalam menggelar unjuk rasa.

Ghalioun juga meminta lembaga kemanusiaan dan para wartawan masuk ke seluruh wilayah di Suriah. Menurut dia, gencatan senjata belum dihormati secara penuh oleh otoritas Suriah karena masih terdengar suara tembakan di beberapa wilayah.

Akan jatuh korban

Juru bicara lembaga umum revolusi Suriah di Eropa, Bassam Djaarah, mengatakan, rakyat Suriah akan terus menggelar aksi unjuk rasa. Ada kemungkinan besar akan jatuh korban dalam aksi unjuk rasa mereka itu. Ia menyatakan, rezim Presiden Bashar al-Assad setiap saat akan melanggar gencatan senjata karena mereka hanya memahami bahasa kekuatan.

Ia menambahkan, pernyataan otoritas Suriah bahwa pasukan pemerintah tetap siaga merupakan indikasi kesiapan melakukan pelanggaran gencatan senjata yang digalang Kofi Annan.

Juru bicara FSA di Suriah, Qasim Saadudin, juga mengatakan, pernyataan Kementerian Pertahanan bahwa pasukan pemerintah tetap siaga jelas merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang digalang Kofi Annan. Menurut dia, gencatan senjata versi Annan mengharuskan pemerintah menarik pasukan dan senjata berat dari kota-kota dan pedesaan. Karena itu, kata Saadudin, anggota FSA akan tetap menunggu dan memantau tindak-tanduk pasukan pemerintah di lapangan.

Salah seorang juru bicara SNC, Basmah Qadmani, menyampaikan sikap pesimistis gencatan senjata tidak akan bertahan.

Di Kairo, Deputi Sekjen Liga Arab Ahmed Ben Helli mengungkapkan, komite menteri luar negeri Liga Arab akan menggelar sidang khusus pada hari Rabu mendatang di Doha, Qatar. Pertemuan akan mengevaluasi situasi pasca-gencatan senjata. Komite itu beranggotakan Qatar, Kesultanan Oman, Arab Saudi, Mesir, Kuwait, Irak, Sudan, dan Aljazair.

Di Ankara, Menlu Turki Ahmet Davutoglu mengatakan, Turki akan memantau dari dekat pelaksanaan gencatan senjata di Suriah. Menurut Davutoglu, jika ada komitmen penuh terhadap usulan solusi Kofi Annan, era baru di Suriah akan bisa dimulai. Namun, dikatakan masih terlalu dini untuk menilai komitmen itu.

Menteri Luar Negeri Turki itu menegaskan, pasukan Pemerintah Suriah dengan senjata beratnya harus ditarik secara penuh dari kota-kota ke barak, bukan sekadar ditarik ke pinggiran kota.

(mth) Puluhan tank dan kendaraan lapis baja masih mengepung Homs.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau