Gempa aceh

Mengungkap "Pelajaran Baru" di Sumatera

Kompas.com - 13/04/2012, 04:38 WIB

OLEH AHMAD ARIF dan BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Sumatera selalu memberi kejutan. Setelah rentetan gempa besar yang diawali pada 26 Desember 2004 di Aceh, mata semua peneliti terpaku pada pergerakan di zona penunjaman. Gempa Rabu (11/4) lalu telah membuka pemahaman baru tentang perilaku sistem gempa di Sumatera yang rumit. 

Ketika para ahli berkali- kali mengingatkan ancaman gempa di segmen subduksi (megathrust) Siberut, ternyata gempa muncul di lokasi yang tak terduga. Gempa itu muncul di lempeng (samudra) Indo-Australia, di luar zona subduksi.

”Di Sumatera gempa di luar subduksi amat jarang terjadi. Terakhir terjadi di lokasi itu tahun 2001,” kata Danny Hilman, ahli gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Menurut Irwan Meilano dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, hampir semua gempa besar di Sumatera terjadi di zona subduksi. ”Gempa besar yang bersumber di sesar aktif di daratan Sumatera hanya sedikit, antara lain gempa Singkarak (2007) dan gempa Liwa (1994),” ujarnya.

Menurut Irwan, gempa Rabu lalu adalah jenis gempa yang lain dari jenis gempa yang selama ini menjadi obyek penelitian di Indonesia. ”Selama ini yang kami amati adalah gempa subduksi dan gempa pada sesar aktif karena keduanya bisa mudah diamati,” katanya.

Di Sumatera terdapat sesar aktif terbesar kedua setelah sesar San Andreas di Amerika. Sesar ini membelah Pulau Sumatera sepanjang 1.650 km dari Teluk Semangko hingga Aceh. Garis patahan itu muncul di Pulau Sumatera lewat Teluk Semangko dari kedalaman Selat Sunda.

Di sepanjang garis inilah, kulit bumi retak. Satu sisi dengan sisi lainnya bergerak horizontal. Lempeng bumi di bagian barat patahan Sumatera bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan 10 mm sampai 30 mm per tahun relatif terhadap bagian di sebelah timurnya. Pergerakan ini dipicu tumbukan antarlempeng di zona penunjaman.

Menurut catatan Danny, sejak tahun 1890, sudah terjadi sedikitnya 21 gempa besar di sepanjang Patahan ”Besar” Sumatera. Artinya, patahan berpotensi melepaskan satu hingga dua kali gempa besar tiap dekade.

Beberapa gempa besar terakhir di antaranya gempa berkekuatan 6,9 skala Richter di Liwa tahun 1994, gempa Kerinci berkekuatan 7 skala Richter tahun 1995, gempa Singkarak-Solok berkekuatan 6,4 skala Richter pada 6 Maret 2007, dan gempa Kerinci berkekuatan 7 skala Richter tahun 2009. Irwan menambahkan, periodisasi gempa di Sumatera mengacu kepada gempa-gempa di zona subduksi.

Percepat pergerakan

Gempa terjadi akibat lepasnya stres (tekanan) pada bidang zona subduksi atau pada sesar. Stres terjadi akibat terjadinya tumbukan antara dua lempeng yang memiliki kecepatan yang berbeda dan arah penunjaman berbeda.

”Lempeng di bawah Pulau Jawa lebih tua dibandingkan lempeng di bawah Pulau Sumatera akibatnya kecepatan pergerakan lempeng di bagian utara lebih lambat dibandingkan kecepatan lempeng di bagian selatan,” kata Irwan.

Ia menjelaskan, dari kekuatan gempa atau magnitudo gempa serta pantauan gerakan di daratan, bisa diperhitungkan akumulasi tekanan pada sumber gempa. Akumulasi tekanan per tahun bisa dihitung.

”Dengan demikian bisa diperkirakan kapan tekanan yang bisa memicu gempa akan terakumulasi,” ujarnya. Akumulasi tekanan (stres) bersifat linier, dan prakiraan periodisasi gempa didasarkan pada perhitungan itu.

”Menurut perhitungan, zona subduksi di Mentawai bagian utara (Siberut) seharusnya sudah ’pecah’, tetapi ternyata sampai sekarang belum,” ujar Irwan. Menurut dia, Mentawai bagian utara dan bagian selatan pernah ”pecah” bersamaan pada 1833 dengan magnitudo 8,9.

Senada dengan itu, Widjo Kongko, peneliti di Tsunami Research Group Balai Pengkajian Dinamika Pantai (BPDP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan, gempa yang terjadi Rabu telah meruntuhkan zona patahan di lempeng (samudra) Hindia-Australia sepanjang 500 kilometer.

”Gempa ini pasti akan memberi tambahan tekanan ke zona subduksi (megathrust) di bawah Siberut,” katanya. ”Kami khawatir ini akan mempercepat terjadinya gempa besar di zona subduksi.”

Sejalan dengan itu, Irwan mengungkapkan, ”Ketika terjadi gempa, ada tekanan yang lepas. Tekanan yang lepas itu memberi tambahan stres secara tiba-tiba pada sistem lain. Akibat adanya tambahan tekanan, periode gempa pada zona tertentu bisa dipercepat. Gempa Rabu melahirkan stres tambahan seperti itu pada lempeng di dekatnya.”

Widjo mengatakan, percepatan itu bisa memicu gempa dari zona subduksi di Siberut yang kekuatannya bisa mencapai 8,9 skala Richter. Dengan magnitudo sebesar itu, gempa itu berpotensi menimbulkan tsunami besar hingga ke Padang.

Menurut Irwan, konsep penambahan tekanan ada dua, yaitu tekanan dinamis (dynamic stress) dan tekanan statis (static stress). Tekanan dinamis bersifat bergerak terus, berlangsung hingga jarak amat jauh, dan pada umumnya menyebabkan gempa berkekuatan 6 skala Richter. Sementara stres statis lebih besar dan berlangsung pada area yang lebih kecil, orientasi gerak amat berpengaruh.

”Jika tambahan stres ini bersifat statis, bisa memicu gempa di Mentawai bagian utara,” kata Irwan.

Di sisi lain, fakta terjadinya dua gempa pada Rabu, pukul 15.38 WIB (8,5 skala Richter) dan pukul 17.43 WIB (8,8 skala Richter), yang keduanya terjadi di lempeng samudra Indo-Australia, diakui merupakan kejadian yang langka.

Irwan mengatakan, ”Kita sekarang tidak boleh merasa sudah aman karena itu tidak riil. Ternyata masih banyak mekanisme, yang selama ini tak pernah terjadi, tetapi ternyata ada. Pengetahuan kami masih amat terbatas. Untuk itu dibutuhkan penelitian yang lebih banyak dan lebih luas lagi.”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau