Cara Alami Meredakan Stres

Kompas.com - 13/04/2012, 10:37 WIB

KOMPAS.com - Setiap orang yang punya banyak kesibukan pasti pernah diserang stres. Meskipun hal ini wajar, namun stres yang kita alami tetap harus diatasi agar tak membuat kita justru depresi, sakit, obesitas, dan bahkan menurut WomensHealth.gov, bisa memperburuk kondisi maag seseorang.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres ini. Anda bahkan tak perlu mengonsumsi obat-obatan atau menjalani terapi. Cukup lakukan beberapa langkah mudah dan murah ini:

1. Tertawakan berbagai hal
Jika merasa stres, jangan buru-buru berpikir bahwa menangis bisa jadi solusi untuk melepaskan ketegangan. Cobalah untuk mengatasi stres dengan tertawa. Sebuah studi yang dimuat dalam American Journal of Medical Sciences pada tahun 1989 mengungkapkan bahwa tertawa bisa menurunkan tekanan darah yang meningkat akibat hormon kortisol (hormon stres). The Mayo Clinic juga melaporkan bahwa tertawa bisa meningkatkan pelepasan hormon endorfin di otak, sehingga membuat otot-otot lebih rileks. Inilah yang menjadi kunci dalam meredakan stres.

2. Membaca
Saat stres, mungkin sebagian besar dari Anda memilih untuk menghindari buku bacaan karena dianggap bisa menambah beban pikiran. Padahal menurut survei yang dilakukan The Telegraph dan Galaxy Chocolate, hanya dengan enam menit membaca buku favorit Anda, stres justru bisa menurun. Hal ini disebabkan membaca buku membantu menurunkan dan menormalkan detak jantung, serta membuat otot lebih rileks. Menyeruput teh atau kopi, mendengarkan musik, dan jalan-jalan, dianggap juga bisa menurunkan tingkat stres seseorang.

3. Menghubungi orang terdekat
Tanpa disadari, menghubungi orangtua -khususnya ibu- bisa membuat perasaan lebih nyaman dan tenang. Saat hidup terpisah dengan ibu, lalu Anda merasa stres, cobalah untuk meneleponnya. Meskipun secara fisik ia tak ada di dekat Anda, namun mendengar suaranya bisa mengurangi tingkat stres Anda.

Sebuah artikel dalam majalah Scientific American pernah mengungkapkan, seorang remaja putri yang baru saja menghadapi berbagai tugas yang berat lantas menurun tingkat stresnya setelah menghubungi ibunya melalui telepon. Saat mengerjakan berbagai tugas, hormon kortisol akan meningkat. Namun ketika menelepon ibunya, terlihat gejala penurunan kortisol dan peningkatan oksitosin. Gejala ini tak terlihat ketika kita tidak menghubungi ibu kita. Hal ini berlaku sama pada remaja putri yang segera memeluk ibunya saat menghadapi masalah yang membuatnya stres.

4. Ngemil cokelat
Ini adalah cara menurunkan stres yang paling disukai. Sebuah penelitian melaporkan bahwa menyantap 1,4 ons cokelat murni dua minggu sekali bisa membantu menurunkan tingkat hormon kortisol.

5. Bergosip
Gosip mungkin punya pengaruh yang kurang baik dalam kehidupan bersosialisasi, tapi bisa memberi pengaruh yang baik dalam menghilangkan stres. Peneliti dari University of California, Berkeley, mengungkapkan, gosip terbukti bisa menurunkan stres.

"Menggosip meningkatkan kadar hormon positif seperti serotonin sehingga mengurangi stres dan kegelisahan," ujar psikolog Dr Colin Gill. Ketika bergosip, kita menunjukkan minat pada apa yang dikatakan orang lain, dan begitu pula sebaliknya. Ikatan ini membuat kita merasa lebih bahagia dan melepaskan senyawa kimia yang memberi rasa senang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau