Umur UU Pemilu Diharapkan Panjang

Kompas.com - 13/04/2012, 10:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Undang-Undang Pemilu yang baru disahkan Dewan Perwakilan Rakyat diharapkan tidak kembali dilakukan revisi setelah Pemilu 2014. UU itu diharapkan tetap digunakan dalam jangka panjang.

Harapan itu disampaikan Ketua DPR Marzuki Alie dan Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy alias Romy secara terpisah di Jakarta, Jumat (13/4/2012).

Marzuki berharap, UU Pemilu yang substansinya dirubah lebih dari 50 persen itu dapat digunakan setidaknya untuk tiga sampai empat kali pemilu mendatang. Adapun Romy berharap digunakan dua sampai tiga kali pemilu. Menurut Romy, dengan begitu rakyat tidak harus belajar dan memulai hal baru setiap kali pemilu.

"Dengan UU Pemilu yang baru, diharapkan Pemilu 2014 dapat berjalan dengan lebih baik yang menghasilkan anggota DPR, DPD, dan DPRD dengan derajat keterwakilan yang tinggi. Kita berharap Pemilu 2014 dapat lebih murah dari segi biaya, lebih mudah dalam pelaksanaan, dan lebih berkualitas dari segi hasil," kata Marzuki.

PDI Perjuangan menilai sebaliknya. Ketua DPP PDIP Puan Maharani mengatakan, UU Pemilu yang baru tetap akan menghasilkan pemilu mahal lantaran tetap menggunakan sistem pemilu proporsional terbuka. Sistem itu juga dinilai tetap akan menghasilkan kualitas anggota Dewan yang tak lebih baik.

"Kami inginkan pemilu yang simple, tidak memakan banyak biaya, tidak ada jeruk makan jeruk secara internal. Bukan hanya untuk PDI Perjuangan, tapi seluruh partai politik yang ikut pemilu 2014," kata Puan.

Dikatakan Puan, pihaknya tetap akan meminta agar UU Pemilu direvisi setelah pemilu nanti. "Kalau memang perlu ada perbaikan, kita akan koreksi," kata putri mantan Presiden Megawati Soekarno Putri itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau