Risiko di Aceh Meningkat Pascagempa

Kompas.com - 13/04/2012, 17:48 WIB

Ahli seismologi mengatakan, gempa besar yang mengguncang Sumatera pekan ini adalah peristiwa yang hanya terjadi 2.000 tahun sekali. Meski dampak kerusakan tidak terlalu besar, gempa tersebut meningkatkan risiko tsunami besar di kawasan tersebut.

Gempa berkekuatan 8,5 dan gempa susulan sesudahnya adalah gempa jenis strike-slip dan merupakan tipe terbesar yang tercatat dalam sejarah, kata Kerry Sieh, Direktur Earth Observatory di Singapura. "Gempa itu sangat besar dan peristiwa yang jarang terjadi," kata Sieh kepada kantor berita Reuters. "Selain itu gempa susulannya juga merupakan gempa susulan terbesar kedua di dunia," ujar Sieh yang telah melakukan penelitian seismik di Sumatera selama bertahun-tahun.

Gempa strike-slip adalah gerakan horisontal akibat lempeng-lempeng bumi yang saling bertabrakan dan tidak memiliki kekuatan sebesar gerakan vertikal. Gempa kategori ini juga tidak memicu tsunami atau gelombang tinggi.

Pada 2004, gempa berkekuatan 9,1 mengguncang Aceh dan wilayah Sumatera lainnya, menewaskan 230.000 orang di 13 negara.

Sumatera, pulau terbarat Indonesia, memiliki sejarah gempa besar serta tsunami yang dipicu oleh pesisir pantai di sepanjang pulau tersebut, di mana lempengan tektonik India-Australia berada di bawah lempengan Eurasia. Hal ini menciptakan palung laut dalam karena setiap lempengan menyusup ke bawah lempengan lainnya sebanyak 1 cm per tahun.

Pada zona yang disebut dengan Sunda megathrust ini, tekanan meningkat ketika lempengan India-Australia membengkokkan lempengan Eurasia, seperti papan pelontar saat lempengan itu bergerak memasuki kerak bumi. Akhirnya ketika tekanan mencapai titik tertentu, ujung lempengan Eurasia tiba-tiba terpental ke atas dan memicu gempa bumi. Gerakan mendadak ini membuat permukaan laut naik dan volume air laut yang besar mengakibatkan terjadinya tsunami.

Risiko gempa

Sieh mengatakan, gempa yang terjadi Selasa lalu kemungkinan besar meningkatkan tekanan di batas-batas lempengen dekat Aceh dan menambah potensi gempa dengan kekuatan serupa seperti 2004. Penelitian Sieh yang telah dipublikasikan pada 2010 menunjukkan bahwa gempa delapan tahun lalu hanya melepaskan separuh saja dari tekanan yang tersimpan selama ratusan tahun di sepanjang garis Sunda megathrust yang mencapai 400 km. Hal itu menyebabkan risiko terjadinya gempa besar di Sumatera hanya tinggal menunggu waktu.

Pada 2008, Sieh dan kolega-koleganya juga sudah menemukan bahwa 700 km bagian Sunda megathrust berada di bawah kepulauan Mentawai. "Saya sangat yakin bahwa kita akan menyaksikan sebuah gempa besar di Mentawai dalam beberapa dekade mendatang dan kekuatan gempa itu akan setara dengan gempa yang baru saja terjadi," kata Sieh.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau