Gaya "Parenting" ala Donna Agnesia

Kompas.com - 13/04/2012, 21:33 WIB

KOMPAS.com - Setiap anak memiliki keunikan, baik dalam potensi maupun karakter yang tak pernah bisa disamaratakan. Dalam sebuah keluarga, si kakak memiliki karakter berbeda dengan si adik, karenanya cara orangtua merespons kebutuhan masing-masing pun takkan sama.

Karena anak memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, setiap keluarga juga punya pola asuh yang tak seragam. Pengasuhan yang cocok diterapkan orang lain, belum tentu bisa diaplikasikan keluarga Anda. Namun tak tertutup juga kemungkinan kalau gaya pengasuhan Anda ternyata bisa diterapkan keluarga lainnya.

Untuk menemukan gaya pengasuhan yang tepat, Anda dan pasangan perlu lebih banyak menggali serta membuka wawasan seluas-luasnya, untuk menemukan formulasi pola asuh terbaik untuk si kecil.

Pengalaman mengasuh anak inilah yang dibagi presenter Donna Agnesia dalam kegiatan Family's Day Out diadakan Mal Ciputra, 11-22 April 2012. Dalam talkshow bertema "Tumbuh Kembang Anak di Usia Emas", Donna berbagi pengalaman mengasuh tiga anaknya, Lionel (5), Diego (3), dan Sabrina (1), mulai pembangunan karakter, kiat membagi perhatian pada tiga anak, hingga konsep pendidikan anak.

Simak gaya pengasuhan anak ala Donna dan suaminya, Darius Sinathrya. Siapa tahu gaya pasangan ini juga cocok diterapkan untuk si kecil di rumah.

* Menjadi teman.
Bersama suaminya, Donna mengaku lebih menganggap anak sebagai teman dalam berkomunikasi sehari-hari. Dengan begitu anak-anak lebih terbuka dan bebas berekspresi.

"Kami tidak bicara seperti anak kecil kepada anak-anak, tapi bicara layaknya dengan teman namun dengan bahasa yang lebih simpel. Sebisa mungkin juga mengurangi kata jangan, walaupun kadang susah mencari kata gantinya. Kalau terlalu sering bilang tidak boleh, anak juga jadi malas bicara dengan orangtua, seperti halnya kita dulu sering dilarang orangtua, akhirnya kita lebih terbuka bicara ke teman daripada orangtua," tuturnya saat talkshow di Atrium Mal Ciputra, Jakarta Barat, Jumat (13/4/2012).

Layaknya berkomunikasi dengan teman, saat anak melakukan kesalahan ajak ia bicara, saran Donna. Alih-alih memarahinya, lebih baik jika berikan alasan jelas saat Anda memeringati si kecil yang berbuat kesalahan tertentu. "Anak-anak sekarang kritis, mereka akan bertanya balik mengapa Anda melarangnya atau memarahinya, mereka mau tahu apa kesalahannya," ujarnya.

* Lebih kreatif.
"Orangtua tidak boleh kalah pintar dan kreatif dengan anak-anak," kata Donna. Ia melanjutkan, "Sebelum tidur, Lionel selalu dibacakan cerita. Kalau tidak ada buku, saya atau Darius mengarang cerita sendiri."

Contoh lainnya, anak-anak tak harus selalu dibelikan mainan mahal sesuai tahapan usia. Orangtua bisa menciptakan mainan sendiri dari apa yang tersedia di rumah.
"Kalau memang mampu ya tidak masalah, namun tak perlu memaksakan diri harus membeli mainan mahal sesuai usia atau perkembangan anak. Kalau pun dibeli, ada jangka waktu yang membuat anak-anak tak selamanya bisa bermain dengan mainan tersebut. Yang penting di sini adalah orangtua harus lebih kreatif," tuturnya.

* Pendidikan dalam keluarga.

Bagi Donna, pendidikan dasar berasal dari dalam keluarga itu sendiri. Meski anak disekolahkan sejak usia dini, keluarga menjadi sumber pendidikan yang sesungguhnya. Meski begitu, ia pun mengakui pendidikan anak di usia dini juga dibutuhkan, seperti preschool. Namun, pastikan orangtua punya tujuan jelas saat mendaftarkan anak untuk mengikuti kegiatan prasekolah.

"Saya sudah menyekolahkan anak ke preschool sejak usia dua, tujuannya lebih untuk membantunya bersosialisasi, kenal dengan orang lain dan belajar sharing agar ia tidak tumbuh menjadi pribadi yang egois," jelas Donna.

* Kasih sayang merata.
Orangtua perlu memberikan kasih sayang secara merata, apalagi jika jumlah anak bertambah. Caranya, berikan perhatian sesuai kebutuhan anak. Di setiap tingkat usia, anak memiliki kebutuhan yang tak sama. Inilah sebabnya bentuk perhatiannya menjadi berbeda antara anak pertama, kedua dan seterusnya.

"Anak kedua saya lebih menuntut, lebih manja, cara menanganinya pun berbeda dengan anak pertama. Berbagai perbedaan cara pengasuhan ini jangan dijadikan beban. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana kita memberikan kasih sayang dengan berempati. Ingat saja waktu kecil dulu, kita senangnya diperlakukan seperti apa oleh orangtua," ungkapnya.

Untuk memastikan anak-anak terpenuhi kebutuhannya akan kasih sayang, dibutuhkan sinergi yang baik. Donna menyontohkan, saat saya berkonsentrasi pada si kecil, ayahnya bermain dengan si kakak. "Sebisa mungkin jangan sampai anak merasa disisihkan, dan selalu libatkan kakak saat Anda sedang bermain dengan si adik, atau sebaliknya," jelas Donna.

Di sinilah letak peran ayah, juga anggota keluarga lainnya seperti nenek. "Mengasuh anak bukan hanya tugas ibu, tapi juga butuh dukungan dari ayahnya, agar anak-anak merasakan kasih sayang sepenuhnya, tidak merasa dibeda-bedakan," tambahnya.

* Butuh sosok tegas.
Dalam keluarga dibutuhkan sosok tegas untuk mendidik anak-anak. Peran ayah penting di sini, karena biasanya anak-anak lebih dekat dengan ibu sehingga ayah muncul sebagai sosok yang disegani.

"Anak-anak harus punya sosok yang disegani tapi bukan ditakuti. Di keluarga saya, anak-anak segan pada bapaknya," tutur Donna.

Dengan pola asuh yang diterapkannya, Donna pun berharap, "Saya inginnya anak-anak mengidolakan ayah ibunya, seperti saya mengidolakan orangtua saya atas apa yang telah dilakukannya untuk mengasuh dan mendidik saya seperti sekarang ini."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau