Utamakan Adopsi Anjing

Kompas.com - 15/04/2012, 19:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Anjing memang lucu dan banyak orang ingin memeliharanya. Tak jarang, uang puluhan juta rupiah pun dikeluarkan untuk membelinya.

Tapi, apakah bijak mengeluarkan uang begitu banyak untuk mendapatkan anjing peliharaan, sementara masih banyak hewan yang telantar?

Komunitas Save Indonesia Dogs mengajak publik Indonesia untuk sadar pentingnya konsep adopsi anjing. Adopsi bisa menjadi salah satu cara untuk memiliki anjing.

"Jumlah anjing di jalanan termasuk banyak. bahkan ada yang anjing ras. Ada juga anjing-anjing yang terancam dimakan," ungkap Sari Alie, salah satu penggerak komunitas Save Indonesia Dogs.

Tak jarang, anjing ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Ada yang hampir gundul tanpa bulu, mengalami malnutrisi hingga mengalami luka akibat disiksa atau bahkan ditabrak.

Adopsi anjing tidak hanya memuaskan keinginan memiliki anjing, tetapi juga membantu anjing menemukan tempat yang lebih layak daripada di jalanan.

"Efeknya bagi manusia, kadang anjing sering dikambinghitamkan sebagai penular rabies. Dengan cara adopsi kita bisa mengurangi penularan," papar Sari saat ditemui dalam peringatan World Stray Animals Day, Minggu (15/4/2012).  

Adopsi anjing pun membantu menyelesaikan masalah terbatasnya penampungan satwa telantar. Di Jakarta saja, tempat penampungan satwa telantar sudah penuh serta kekurangan biaya pemeliharaan.

Memang manusia biasanya memilih anjing yang punya kekhasan untuk dimiliki. Namun, menurut Sari, anjing apapun jika dipelihara dengan baik akan menonjolkan keindahan dan kekhasannya.

Tanggung Jawab Manusia

Kartika, salah satu pengadopsi anjing yang juga termasuk anggota komunitas ini, adopsi anjing merupakan salah satu bentuk tanggung jawab manusia pada lingkungan.

"Tidak seharusnya mereka telantar. Mereka hidup di dunia kita, industri, enggak bisa cari makan sendiri. Mereka tidak disiapkan seperti manusia," jelas Kartika yang masih duduk di bangku SMA.

Sari mengatakan, semua lapisan masyarakat perlu sadar pentingnya adopsi anjing. Kalangan menengah atas diharapkan mau mengadopsi anjing yang punya masalah kesehatan dan melakukan pengobatan.

Dalam adopsi, perlu dipahami pentingnya sterilisasi. Ini berguna agar adopsi tidak menghasilkan keturunan-keturunan baru yang dikhawatirkan akan telantar nantinya.

Sari saat ini memiliki 3 ekor anjing hasil adopsi. Salah satu anjing adalah hasil pungutan dari jalanan, ditemukan dalam kondisi bulu penuh kutu serta mengalami anemia.

Sari tergerak mengadopsi anjing sejak umur 5 tahun. Saat itu, ia punya 40 anjing. Satu per satu anjingnya kala itu mati, selain akibat umur yang sudah tua juga banyak yang diracun.

Sementara itu, Kartika kini memiliki 4 anjing hasil adopsi. Salah satu anjing miliknya, jenis golden retriever, ditemukan di jalan hampir tanpa bulu ekor, kaki pincang serta mengalami pendarahan.

Tanggal 4 April lalu diperingati sebagai World Stray Animals Day atau Hari Hewan Telantar Sedunia, Hari ini ditetapkan sebagai peringatan bentuk kepedulian manusia pada makhluk ciptaan Tuhan yang lain.

Bagi warga dunia, termasuk Indonesia, hari tersebut menjadi momen untuk mengingatkan pentingnya hak hewan dan perlakuan etis kepada hewan.

Selain anjing, hewan lain yang banyak ditelantarkan adalah kucing dan kera. Jumlah kucing telantar di Jakarta saja diperkirakan 34.000 ekor, lebih banyak dari anjing. Banyak kera yang dimanfaatkan untuk pertunjukan tidak diperlakukan secara etis.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau