Suriah

Gencatan Senjata Hanya di Bibir

Kompas.com - 16/04/2012, 02:27 WIB

Kairo, Kompas - Otoritas Suriah dan kubu oposisi hari Minggu (15/4) menyambut baik resolusi Dewan Keamanan PBB. Ini khususnya tentang pengiriman tim monitor PBB ke Suriah untuk mengawasi jalannya gencatan senjata, yang hanya sebatas ucapan di bibir.

Kenyataan di lapangan menunjukkan otoritas Suriah hingga hari Minggu belum melaksanakan gencatan senjata yang berlaku sejak hari Kamis (12/4).

Televisi satelit Aljazeera menayangkan gambar gempuran bertubi-tubi dari pasukan pemerintah atas jantung kota Homs, markas utama oposisi Suriah.

Namun, lepas dari itu, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki- moon mengatakan agar tim monitor PBB mendapat kebebasan penuh untuk bergerak di seantero negeri Suriah. Sekjen PBB itu menambahkan akan menyampaikan usulan tentang pembentukan tim monitor internasional yang terdiri atas 250 personel pada hari Rabu mendatang.

Pada hari Sabtu, DK PBB menyetujui secara aklamasi draf resolusi yang menyerukan penyebaran tim monitor PBB di Suriah. Tujuannya untuk mengawasi implementasi gencatan senjata.

Resolusi itu mengizinkan penyebaran segera 30 anggota tim monitor sebagai langkah pertama. Ini disusul dengan penyebaran 250 anggota tim monitor setelah terwujud gencatan senjata secara penuh. Resolusi itu meminta Suriah memberi kemudahan atas pekerjaan tim monitor, dan memberi mereka kebebasan untuk bergerak di seantero negeri.

Resolusi tersebut juga mengecam pelanggaran hak asasi manusia, baik yang dilakukan pemerintah maupun kelompok bersenjata. Harian Al Hayat, mengutip seorang pejabat PBB di New York, mengatakan sejumlah anggota tim monitor PBB dijadwalkan pada hari Minggu (15/4) mulai tiba di Damaskus.

Curigai anggota DK PBB

Duta Besar Suriah untuk PBB Bashar al-Jaafari mengatakan, resolusi DK PBB itu kurang berimbang, tetapi Suriah tetap menerimanya. Ia menambahkan, kekhawatiran Suriah adalah adanya niat buruk negara-negara anggota DK PBB terhadap Suriah.

Ia menuduh negara-negara Arab Teluk menyuplai dana kepada kelompok oposisi bersenjata. Kecurigaan lain adalah niat DK PBB itu malah dimanfaatkan untuk merongrong Pemerintah Suriah.

Ketua Dewan Nasional Suriah (SNC) Burhan Ghalioun menyambut resolusi DK PBB dan siap melaksanakan, serta mau menyukseskan misi Kofi Annan. Menurut Ghalioun, resolusi DK PBB itu merupakan kebijakan internasional untuk menghargai perjuangan dan pengorbanan rakyat Suriah.

Sebaliknya, dia juga memperingatkan masyarakat internasional soal manuver, permainan, dan kebohongan rezim Presiden Bashar al-Assad. Ghalioun mengatakan, otoritas Suriah belum menarik senjata berat dari perkotaan, belum mengizinkan aksi unjuk rasa, serta belum berhenti membunuh warga sipil.

Situasi lapangan masih terus memburuk. Direktur lembaga pemantau HAM Suriah, Rami Abdurrahman, mengungkapkan, pasukan pemerintah menggempur distrik Al-Khalidiyah dan Al-Biyadah di kota Homs.

Menurut dia, kini pasukan pemerintah menguasai 70 persen kota Homs, dan kubu oposisi menguasai 30 persen kota itu, khususnya kawasan kota lama. Sumber keamanan, seperti dikutip televisi Aljazeera, mengungkapkan, sekitar 2.500 warga Suriah yang sebagian besar kaum wanita dan anak kecil melintas perbatasan menuju Jordania selama 48 jam terakhir ini. (mth)

Ia menuduh negara-negara Arab Teluk menyuplai dana kepada kelompok oposisi bersenjata. Kecurigaan lain adalah niat DK PBB itu malah dimanfaatkan untuk merongrong Pemerintah Suriah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau