Gempa di Selat Sunda Harus Tetap Diwaspadai

Kompas.com - 16/04/2012, 06:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Gempa berkekuatan 6 skala Richter yang terjadi Minggu (15/4/2012) pukul 02.26 WIB dan berpusat di sekitar 95 kilometer barat daya Kabupaten Pandeglang, Banten, membuktikan bahwa segmen Selat Sunda masih aktif.

Gempa yang berpusat pada kedalaman sekitar 40 kilometer itu dirasakan oleh warga di sekitar Pandeglang dan Serang, Banten, serta Jakarta. Meski demikian, dilaporkan tidak ada korban jiwa ataupun kerusakan berarti akibat gempa tersebut.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Suhardjono mengatakan, setelah gempa Simeulue pada Rabu (11/4/2012) dan disusul gempa Pandeglang, dampak dan alur gempa segera diteliti.

Gempa di Pandeglang kemungkinan besar merupakan dampak dari gempa besar di barat Pulau Simeulue. Karena itu, dampak gempa juga akan dikaji terhadap sesar Semangko yang terbentang dari Selat Sunda hingga Banda Aceh.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengimbau masyarakat di daerah rentan gempa, khususnya di wilayah Sumatera dan Jawa, meningkatkan kewaspadaan.

Gempa terkini yang terjadi di barat daya Pandeglang menunjukkan subduksi di Selat Sunda itu aktif. "Ada kekosongan kegempaan (seismic gap) di bagian barat daya Selat Sunda. Ini berpotensi menghasilkan bencana gempa di masa depan," kata Sutopo.

Suhardjono mengatakan, potensi gempa tidak selalu mengikuti zona subduksi, tetapi bisa berpindah ke sesar-sesar lain.

Sesar Semangko berada di Sumatera. Sesar Cimandiri, Lembang, dan Baribis berada di Jawa Barat. Ada sesar Opak di Yogyakarta serta sesar-sesar mikro lainnya. Penduduk yang berada di sesar-sesar aktif berpotensi terkena bencana akibat gempa.

"Seismic gap"

Segmen Selat Sunda oleh sejumlah pakar selalu dikatakan ada seismic gap. Menurut pakar geodinamika dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Irwan Meilano, seismic gap tidak langsung menunjukkan bahwa segmen tersebut aktif. Butuh data pendukung berupa data lama kegempaan atau adanya bukti regangan antarlempeng.

"Dari penelitian memang terbukti ada regangan di daerah tersebut," kata Irwan.

Diskusi soal seismic gap di segmen Selat Sunda muncul setelah gempa dan tsunami di Aceh pada 2004. (NAW/ISW/CAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau