Banyak Hasil Survei tentang PKS Tidak Akurat

Kompas.com - 16/04/2012, 21:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bakal calon gubernur yang diusung PKS, Muhammad Hidayat Nur Wahid, ikut mengomentari dua hasil survei terakhir terkait Pemilihan Umum Kepala/Wakil Kepala Daerah DKI Jakarta 2012. Walaupun mengakui survei merupakan salah satu parameter dalam mengukur peluang para bakal calon, Hidayat mengungkapkan fakta bahwa hasil survei terkait PKS kerap kali jauh berbeda dengan hasilnya.

"Selama ini hasil survei tentang PKS akurasinya selalu kurang tepat. Pada Pilgub 2007, misalnya, hasil survei mengatakan pemilih Pak Adang (Dorodjatun, calon gubernur asal PKS saat itu) setinggi-tingginya 29 persen. Hasilnya, Pak Adang ternyata bisa mendapatkan 42 persen suara," kata Hidayat saat berbincang-bincang dengan Redaksi Kompas.com di Palmerah, Jakarta Pusat, Senin (16/4/2012).

Tidak hanya hasil Pilkada DKI Jakarta 2007 yang menjadi rujukan mantan Ketua MPR ini. Hidayat juga mengacu pada hasil survei pada 2004, saat ia masih menjabat Presiden PKS.

Saat itu, lembaga survei memperkirakan PKS hanya mampu meraup 2,5 - 2,9 suara. Kenyataanya, hasil Pemilu menunjukkan PKS berhasil meraup 7,34 persen dan berada di posisi ke-6, setingkat di bawah Partai Demokrat.

"Apalagi tahun 2004 itu kami unggul di Jakarta dengan 24 persen suara. Tahun 2009 juga masih tinggi, dapat 18 persen," lanjut pasangan Didik Rachbini dalam Pilkada DKI Jakarta 2012.

Meski demikian, Hidayat mengakui survei merupakan salah satu cara untuk mendapatkan gambaran awal mengenai realitas perilaku pemilih. Karena itu, kedua hasil survei terakhir akan memotivasi ia bersama timnya untuk bekerja lebih giat mencapai presentase suara yang ditargetkan.

"Masih ada waktu tiga bulan bagi kami untuk mengejar ketertinggalan kami seperti yang disampaikan dalam hasil survei," tutur Hidayat.

Dua hasil survei terakhir terkait Pilkada DKI Jakarta masing-masing dirilis oleh Citra Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia(LSI) pada Minggu (8/4/2012), dan oleh Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) yang dirilis pada Minggu (15/4).

Hasil survei LSI menempatkan pasangan Hidayat-Didik pada peringkat ketiga dengan perolehan 8,3 persen suara. Posisi serupa didapatkan pasangan ini dalam hasil survei Puskaptis. Namun, Puskaptis memberikan perolehan suara yang lebih besar kepada pasangan yang diusung PKS ini dengan perolehan 10,28 persen suara.

Dua posisi teratas dalam kedua hasil survei tersebut tidak berbeda. Pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli berada di urutan teratas diikuti pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama di tempat kedua.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau