Nuansa Bavaria di Jantung Vatikan City

Kompas.com - 17/04/2012, 05:57 WIB

Ada suasana berbeda di Vatikan City, Senin (16/4). Nuansa Bavaria terasa saat Paus Benediktus XVI memperingati hari lahirnya ke-85.

Pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia itu mengawali harinya dengan misa di Kapel Pauline di kompleks Istana Kepausan, didampingi kakaknya, Georg Ratzinger (88). Georg juga seorang imam, dan mendapat gelar monsinyor tahun 1994.

Paus lalu menerima kunjungan uskup dan pemimpin Bavaria, Jerman, daerah asal pria yang lahir di Marktl, 16 April 1927, dengan nama Joseph Ratzinger ini. Tak lupa, kelompok musik asal Bavaria turut merayakan hari bahagia Paus.

Kardinal Angelo Soldano lalu menyampaikan ucapan selamat ulang tahun atas nama Dewan Kardinal. Soldano sekaligus mengundang tamu-tamu asal Bavaria menikmati ”pesta pribadi” di Istana Kepausan.

Berbicara dalam bahasa Latin, Soldano berharap agar Paus memperoleh ”tahun-tahun yang membahagiakan di masa depan”. Harapan serupa disampaikan sejumlah kepala negara yang mengirimkan ucapan selamat, seperti Kanselir Jerman Angela Merkel, Ratu Inggris Elizabeth II, dan Presiden Italia Giorgio Napolitano.

Paus menerima hadiah istimewa dari negeri asalnya, buku bertajuk Benediktus XVI: Tokoh Terkemuka tentang Paus. Sebanyak 20 figur terkemuka Jerman menuliskan kesan mereka, di antaranya mantan PM Bavaria Edmund Stoiber, Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schäuble, dan pesepak bola legendaris Franz Beckenbauer.

Beckenbauer mengenang pertemuannya dengan Paus, beberapa bulan sebelum Jerman menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006. Mantan kapten tim nasional Jerman itu berkisah, keduanya berbeda pendapat soal kondisi timnas Jerman saat itu, yang dinilai Paus ”cukup baik”.

”Saya berpendapat berbeda, lalu menjawab setidaknya mereka berada di alur yang benar. Dan dia tersenyum ramah,” tulis Beckenbauer, yang mengaku selalu membawa fotonya bersama Paus ke mana pun dia pergi.

”Ketenangan, martabat, dan kebaikan hatinya yang terpancar sangat berkesan,” kata Beckenbauer, yang menyebut pertemuannya dengan Paus mengubahnya secara pribadi. ”Saya jadi lebih sering pergi ke gereja.”

Buku itu disunting sekretaris Paus, Uskup Georg Gaenswein. Dalam wawancara dengan harian Italia La Repubblica, Gaenswein mengatakan Paus sering disalahartikan. Padahal, dia memiliki keberanian. ”Dia tak takut dengan pertanyaan atau konfrontasi, untuk kebaikan gereja dan kebenaran,” ujarnya.

Usia 85 tahun menjadikan Benediktus XVI sebagai Paus tertua yang masih menjabat sejak Leo XIII, yang meninggal tahun 1903 dalam usia 93 tahun. Sebelumnya, dia adalah Paus tertua dalam 300 tahun, saat terpilih menjadi Paus pada usia 78 tahun, 19 April 2005. Dia juga termasuk satu dari 10 Paus dalam 500 tahun yang masih bertakhta di usia 85 tahun.

Dalam kunjungan enam hari ke Kuba dan Meksiko, dilanjutkan ritual Pekan Suci yang padat, Paus terlihat kelelahan. Untuk pertama kalinya dia terlihat menggunakan tongkat saat tiba di Meksiko. Namun, secara umum Paus terbilang sehat.

Dia juga menepis spekulasi akan mundur karena usia. Kepada ribuan umat yang memadati misa hari Minggu, dia berkata, ”Saya mohon Anda berdoa sehingga Tuhan memberi saya kekuatan untuk memenuhi tugas yang Dia percayakan pada saya.” (AP/AFP/WAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau