5 Jebakan Pilkada Berakibat Hilangnya Dukungan

Kompas.com - 17/04/2012, 19:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemilihan kepala DKI Jakarta 2012 kemungkinan akan memunculkan banyaknya swing voter atau pemilih yang pindah dukungan. Besar kemungkinan terjadi hal ini jika keenam bakal calon gubernur DKI Jakarta yang bersaing justru saling menjatuhkan lawan politiknya masing-masing.

Pengamat politik, Sukardi Rinakit, mengatakan bahwa langkah yang diambil seorang calon untuk menjatuhkan calon lainnya hanya akan mengakibatkan munculnya perpindahan dukungan pada lawan politik yang tidak dijagokan. Menurutnya, ini adalah salah satu jebakan politik dalam pelaksanaan Pilkada baik berskala nasional maupun regional.

"Saya sudah mengikuti dan mengamati sebanyak 154 pilkada di Indonesia dan hasil akhirnya menyedihkan sekali," kata Sukardi dalam "Diskusi Riset Cagub DKI Jakarta 2012, Perbandingan antara Publik dan Tokoh" di Wisma Kodel, Jakarta, Selasa (17/4/2012).

Ia mengatakan, hasil tersebut terjadi lantaran banyak hasil pilkada yang tidak sesuai dengan perkiraan. Banyak calon yang masuk dalam bursa pilkada justru mengabaikan jebakan politik yang selalu terjadi.

Sukardi berpendapat, ada lima jebakan yang harus diwaspadai oleh para calon kepala daerah dalam pilkada. Pertama adalah jebakan hasil survei dari pasangan calon pemimpin dalam Pilkada yang berisi memenangkan calon tersebut. "Padahal, hasil survei tersebut selalu bergerak dan dinamis. Komposisi survei yang tidak ekstrem inilah yang bisa menjadi jebakan bagi pasangan calon, padahal kenyataan di lapangan apa pun bisa terjadi," paparnya.

Jebakan kedua yaitu efek bakal calon (balon). Para calon diharapkan berhati-hati menyampaikan pernyataan dan jawaban yang dilontarkannya di depan publik. Jika terjadi saling serang antarcalon tertentu, maka hal itu akan mengakibatkan banyaknya peralihan dukungan kepada calon yang tidak banyak bicara dan jarang mengeluarkan pernyataan negatif.

"Contoh, tim Fauzi menganggap Jokowi sebagai lawan paling kuat. Begitu juga dengan tim Jokowi. Jadinya, saling menjelekkan dan menjatuhkan. Takutnya akan muncul calon pilihan alternatif tak terduga di luar kedua calon itu," ujar Sukardi.

Perangkap ketiga adalah terjadi petempuran infrastruktur politik. Dalam hal ini, bakal calon yang mampu menguasai infrastruktur politik hingga ke tingkat RT dan RW bahkan organisasi masyarakat paling bawah dapat unggul dibandingkan calon lain. Faktor keempat yang dapat mengurangi jumlah dukungan terkait dengan kemungkinan hilangnya suara warga kelas menengah ke atas saat pencoblosan pada 11 Juli 2012 karena bertepatan dengan libur anak sekolah.

"Itu harus hati-hati, dihitung oleh semua tokoh. Jangan energi digunakan untuk kampanye di perumahan mewah, peta harus dibaca. Mereka justru akan pergi berlibur," jelasnya.

Jebakan yang terakhir adalah victory law, yakni kepala daerah yang gagal dapat dipilih kembali karena adanya faktor lupa dalam diri masyarakat bila diberikan insentif oleh kepala daerah tersebut. "Incumbent mempunyai kekuatan melodramatis. Dihina dan dipojokkan akan menjadi nilai tersendiri baginya. Saat dia memberikan insentif pada masyarakat, maka dia akan terpilih kembali. Jadi semuanya harus mengerti strategi ini," kata Sukardi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau