Konflik

Ahmadinejad Jaga Integritas Iran

Kompas.com - 17/04/2012, 22:07 WIB
KOMPAS.com — Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengatakan, pihaknya akan merespons setiap ancaman terhadap integritas wilayahnya dengan kekuatan bersenjata. Menurutnya, sebagaimana warta AFP pada Selasa (17/4/2012), Tehran lebih senang bekerja dengan negara-negara Arab tetangganya untuk mempertahankan keamanan di Teluk.
   
"Kehadiran pasukan bersenjata dan tentara hanya akan menimbulkan penyesalan dan rasa malu, misalkan terjadi agresi terhadap wilayah dan kepentingan Iran," kata Ahmadinejad kepada komandan militer dan personel dalam hari ulang tahun militer Iran.
   
"Iran siap untuk melindungi keberadaan dan kedaulatannya," katanya.
   
Ahmadinejad tidak secara eksplisit merujuk pada ketegangan baru antara Iran dan negara-negara di Teluk Arab terkait kunjungannya ke Pulau Abu Musa pada 11 April, yang diklaim oleh Iran dan Uni Emirat Arab.
   
Namun, dia mengatakan, kunci untuk stabilitas abadi di kawasan Teluk adalah kerja sama kawasan.  "Ketika menyangkut Teluk Persia, keamanan hanya akan tercapai melalui kerja sama kolektif semua bangsa dan pemerintah," katanya, seraya mengecam "campur tangan asing yang hanya menyebabkan kerusakan dan perpecahan".
   
Pernyataan oleh Ahmadinejad yang dikenal dengan pidato kontroversialnya terjadi beberapa jam sebelum pertemuan para menteri luar negeri dari enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) di Doha untuk membahas meningkatnya ketegangan antara Iran dan UEA akibat sengketa pulau.
   
Ketegangan terkait tiga pulau kecil di kawasan Teluk itu, termasuk Abu Musa, meningkat dengan adanya pernyataan Ahmadinejad dalam kunjungannya ke pulau tersebut, Rabu, bahwa catatan sejarah membuktikan Teluk Persia adalah milik bangsa Persia.
   
Abu Dhabi mengecam kunjungan Ahmadinejad sebagai "pelanggaran kedaulatan UEA" dan menarik duta besarnya dari Tehran sebagai bentuk aksi protes.
   
UEA juga telah mengajukan protes kepada PBB atas kunjungan itu seraya menekankan bahwa sengketa wilayah harus diselesaikan melalui negosiasi atau di Mahkamah Internasional.
   
Tehran, Senin, disarankan berhati-hati dan menahan diri ketika Menteri Luar Negeri Ali Akbar Salehi menegaskan kedaulatan Iran atas pulau-pulau itu tidak dapat dinegosiasikan.
   
Menteri Luar Negeri UEA Sheikh Abdullah bin Zayed al-Nahayan menanggapi dengan memperingatkan bahwa jika dibiarkan tidak terselesaikan, masalah itu bisa membahayakan keamanan dan perdamaian internasional.
   
Iran, yang di saat itu di bawah kekuasaan Syah yang didukung Barat, merebut kendali atas Pulau Abu Musa, Lesser Tunb, dan Greater Tunb pada tahun 1971, ketika Inggris memberikan kemerdekaan pada wilayah kependudukannya di kawasan Teluk dan menarik pasukannya.
   
Abu Musa, satu-satunya pulau berpenghuni dari tiga pulau tersebut, berada di bawah pemerintahan bersama sebagai bagian dari kesepakatan dengan Sharjah, sekarang bagian dari UEA.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau