Proses Masih Mengecewakan

Kompas.com - 18/04/2012, 02:26 WIB

WASHINGTON, SELASA - Proses pemilihan pemimpin Bank Dunia tertutup. Keputusan tetap memenangkan kandidat yang diajukan oleh AS menuai protes. Seperti telah diduga sebelumnya, suara aklamasi mendukung Jim Yong Kim dari AS.

Oxfam, kelompok anti-kemiskinan global, menyatakan Kim adalah kandidat berkualitas baik. Namun, proses pemilihan tetap saja menunjukkan fakta bahwa kandidat dari AS harus menang dalam proses seleksi yang sangat tidak transparan. Selama hampir tujuh dekade, Bank Dunia selalu dipimpin oleh warga AS dan Dana Moneter Internasional (IMF) oleh orang Eropa.

”Dr Kim merupakan pilihan baik untuk menjadi presiden Bank Dunia. Dia sungguh pahlawan pembangunan. Namun, kita tidak pernah tahu apakah dia adalah kandidat terbaik untuk pekerjaan tersebut karena tidak ada kompetisi yang jelas dan transparan. Proses tertutup merusak institusi dan hal ini menodai penunjukan Kim,” ujar salah satu aktivis Oxfam, Elizabeth Stuart.

Menteri Keuangan Afrika Selatan Pravin Gordhan juga kecewa terhadap proses pemilihan tersebut. Dia mengatakan akan terus mendesak Bank Dunia untuk lebih banyak melakukan reformasi organisasi dan proses pemilihan kepemimpinan.

Gordhan mengakui sudah ada kemajuan yang dibuat, misalnya dengan memperbolehkan negara lain ikut mengajukan kandidat untuk pertama kali pada pemilihan ini. ”Pemilihan ini tidak sekadar menjadi ruangan yang dipenuhi ’asap’ Eropa dan AS saja. Akan tetapi, ada indikasi negara kuat tetap menjadi penentu akhir dalam pemilihan ini. Banyak reformasi yang harus dilakukan soal ini,” ujarnya mengenai proses nominasi.

Selain Kim, ada pula kandidat dari Nigeria, yakni Menteri Keuangan Ngozi Okonjo-Iweala. Juga ada mantan Menteri Keuangan Kolombia Jose Antonio Ocampo, yang mengundurkan diri pada saat-saat terakhir proses pemilihan.

Gordham juga menyatakan akan mendesak agar lebih banyak lagi perwakilan dari Afrika duduk di dewan IMF. Dia berharap dapat membujuk Eropa untuk menyerahkan jatah kursi kepemimpinan di IMF.

Ngozi Okonjo-Iweala didukung Afrika dan negara berkembang lainnya. Rusia secara terbuka telah mengumumkan berada di belakang Kim.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton menyampaikan kegembiraan atas terpilihnya Kim sebagai pemimpin baru di Bank Dunia. Lewat siaran pers, Hillary juga memuji Kim yang dia nilai bakal mampu mendorong konsensus antara negara-negara donor dan peminjam Bank Dunia.

”Dia mampu mendemonstrasikan komitmen yang mendalam terkait penyelesaian tantangan sangat berat belakangan ini dan yang juga masih kita hadapi,” ujar Hillary.

Setelah berabad-abad para bankir Wall Street, julukan bagi bursa AS yang juga julukan bagi markas kapitalisme AS, dan diplomat Washington mengepalai Bank Dunia, kali ini seorang antropolog menempati posisi itu.

Pengalaman

Kim (52) lahir di Seoul, Korea Selatan. Dia memiliki rekam jejak bagus dengan jabatan sebelumnya di Harvard Medical School dan Rumah Sakit Brigham. Namun, yang lebih penting dia rajin menjalankan kampanye melawan kemiskinan dan masalah kesehatan global.

Pada pertengahan 1990-an, dia bekerja di Peru untuk mendirikan pusat perawatan tuberkulosis terbesar di negara-negara miskin. Program ini sekarang dijalankan di 40 negara lain.

Pada periode tahun 2003 dan 2007, dia memunculkan inisiatif via Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mendorong peredaran obat baru bagi tiga juta pengidap HIV/AIDS di negara berkembang.

Kim juga pernah mendirikan lembaga nirlaba, Mitra Dalam Kesehatan, dengan tujuan memberdayakan berbagai komunitas mulai dari Haiti hingga Rusia. Pekerjaan ini membuat Kim terkenal di kalangan akademisi dan pemerhati WHO.

(Reuters/AFP/joe/dwa)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau