Gadis Ini Lumpuh Usai Tenggak Minuman Serbuk Instant

Kompas.com - 18/04/2012, 12:48 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Nasib malang menimpa Salsabila Salis (13), pelajar putri kelas VIII SMP 23 Semarang.  Gadis periang ini mengalami kelumpuhan secara tiba-tiba. Diduga, kelumpuhan itu terjadi akibat minuman serbuk instant berkarbonasi yang diminum sewaktu di sekolah.

Putri ketiga pasangan Agung Purwoko (55), pengajar Biologi SMA 16 Semarang dan Dewi Nurhayanti (42) warga Kelurahan Ngadirego RT 2 RW 2 Kecamatan Mijen tersebut kini tak bisa melakukan kegiatannya sendiri. Sehari-harinya ia dibantu oleh, ibu, ayah dan kakaknya untuk beraktivitas. Sebab tubuhnya tampak lunglai seperti tidak bertulang, untuk mengangkat tangannya saja ia terlihat kerepotan.

Namun untuk berbicara ia masih lancar. Kejadian ini berawal pada 19 Maret lalu, ketika jam istirahat di sekolah Salsa diberi minuman serbuk berkarbonasi merk "F" oleh temannya yang dibeli dari kantin sekolah dengan harga Rp 500. Minuman tersebut diproduksi oleh "PT. KI" Semarang dengan tanggal kedaluwarsa Oktober 2013.

"Teman saya itu bilang, Sa minuman ini rasanya aneh, coba deh, akhirnya saya coba dan hanya sedikit satu sedotan abis itu kepala saya pusing dan perutnya panas,"ujarnya Rabu (18/4/2012).

Ia juga sempat pingsan selama dua jam di sekolah sebelum dijemput oleh kedua orang tuanya. Saat ditanya seperti apa rasanya, ia mengaku rasa minuman itu seperti obat gosok dan bau cukup menyengat. Salsa kemudian dibawa ke rumah sakit Permata Medika Ngaliyan Semarang. Ia dirawat dari 19 Maret hingga 5 April.

"Berdasarkan hasil konsultasi dengan dokter spesialis rehabilitasi medis, hasilnya anak saya mengalami kelemahan anggota gerak,"ungkap ayah Salsa, Agung Purwoko.

Ia mengatakan, dokter di rumah sakit tersebut juga mengatakan kejadian yang dialami Salsa memang dampak usai minum minuman tersebut. Sebab dari informasi Puskesmas Mijen, bukan hanya Salsa yang mangalami pusing dan mual, terdapat delapan anak lainnya yang mengalami hal serupa yang juga satu sekolah dengan Salsa. "Namun memang Salsa yang paling parah," tambahnya.

Saat ini pihaknya masih mengikuti program rumah sakit dengan melakukan fisioterapi."Kami berharap Salsa sembuh agar bisa sekolah lagi dan ada tanggung jawab dari produsen pembuat minuman,"ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau