Fosil

Tengkorak Manusia Purba Ditemukan di Semedo

Kompas.com - 18/04/2012, 13:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Kepingan tengkorak manusia purba ditemukan di Situs Semedo, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Temuan ini mengungkap fakta bahwa penyebaran Homo erectus tidak hanya di Jawa Tengah bagian timur dan Jawa Timur, tetapi juga di daerah belahan barat-utara Jawa Tengah.

Setelah lebih dari setengah tahun meneliti, tim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran menyimpulkan bahwa fosil tersebut berusia sekitar 700.000 tahun lalu pada kala pleistosen tengah.

Temuan Homo erectus di Semedo ini membuka cakrawala baru bagi penelitian Homo erectus di Pulau Jawa.

Menurut Harry, fosil manusia di Semedo ini adalah yang pertama kali ditemukan di belahan barat-utara Jawa Tengah. Selama ini temuan manusia purba Homo erectus banyak ditemukan di Jawa Tengah bagian timur (Sangiran, Ngandong, dan Sambungmacan) dan Jawa Timur (Trinil dan Mojokerto).  

Fosil yang ditemukan itu berupa kepingan-kepingan bagian tengkorak kepala, seperti tulang tengkorak bagian belakang, sepasang tulang tengkorak di belakang dahi dan tulang pertautannya, dan tulang berbentuk cekungan tempat melekatnya otak belakang. Fosil itu ditemukan Dakri, seorang petugas keamanan di Situs Semedo, di sebuah anak Sungai Kawi.

Harry Widianto, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Selasa (18/4/2012), mengatakan, fosil tersebut sebenarnya sudah ditemukan pada bulan Mei 2011. Namun, para ahli membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk menyimpulkan bahwa fosil tersebut berasal dari masa pleistosen tengah.

"Kami tidak bisa terburu-buru dan langsung menyimpulkan bahwa fosil yang ditemukan benar-benar berumur tua. Butuh proses penelitian yang memakan waktu," kata Harry.

Situs Semedo merupakan situs manusia purba yang paling akhir ditemukan. Keberadaan situs ini diketahui ketika Dakri, Duman, Sunari, dan Ansori, penduduk setempat, menemukan himpunan fosil-fosil vertebrata pada bulan Juni 2005. Temuan itu kemudian dilaporkan ke Balai Penelitian Situs Manusia Purba Sangiran.

Dakri (54), petugas keamanan Situs Semedo, mengungkapkan, ketika sedang melintasi anak Sungai Kawi ia melihat tengkorak kepala manusia. Sekilas bentuk tengkorak kepala itu sebagian seperti kelapa yang dibelah. "Saya tidak berani melaporkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tegal sebelum saya melaporkannya sendiri ke Sangiran," kata warga asli Tegal ini.  

Penelitian dari berbagai disiplin ilmu kemudian dilakukan di Semedo. Mereka yang terlibat adalah para ahli paleoantropologi, paleontologi, arkeologi, geologi, dan berbagai disiplin ilmu kuarter lainnya.  

Sebelum menemukan Homo erectus, para ahli juga telah meneliti hasil temuan berupa fosil binatang vertebrata dan alat batu paleolitik. Dengan ditemukannya manusia purba ini, maka lengkap sudah bahwa situs yang terletak di jajaran Pegunungan Serayu Utara ini memberikan data tentang evolusi manusia, budaya, dan lingkungannya sejak 1,5 juta tahun lalu.

"Jadi manusia purba Homo erectus telah menjangkau daerah barat di jajaran Pegunungan Serayu Utara, jauh dan terpisah dari saudara-saudaranya yang selama ini menguasai habitat di Cekungan Solo, Pegunungan Kendeng, dan daerah aluvial Bengawan Solo," ungkap Harry.

Ia menambahkan, dengan ditemukannya Homo erectus di Semedo, penelitian manusia purba diorientasikan pula ke endapan-endapan purba di Jawa bagian barat yang selama ini kurang diperhatikan peneliti.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau