Lahan Bekas Kebakaran di TN Berbak Belum Pulih

Kompas.com - 18/04/2012, 17:17 WIB

JAMBI, KOMPAS.com — Lokasi bekas kebakaran lahan yang mencapai 32.000 hektar pada tahun 2001 di kawasan Taman Nasional Berbak, Jambi, hingga kini belum pulih. Sebagian besar lahan masih berupa semak belukar. Diperkirakan sekitar 5.000 hektar telah ditumbuhi vegetasi keras.

Menurut Nukman, Kepala Bagian Usaha Balai Taman Nasional Berbak (TNB), di Jambi, Rabu (18/4/2012), kebakaran pada 20 tahun lalu tersebut terjadi pada kawasan relung gambut atau kawasan gambut berkedalaman 13 meter. Lapisan gambut yang terlalu dalam membuat tanaman lambat tumbuh. Pihaknya harus membiarkan suksesi berlangsung secara alami.

Nukman melanjutkan, pembalakan liar juga berlangsung di tiga titik besar, yaitu di wilayah Sungai Aur, Kecamatan Kumpeh Ilir, serta Sungai Kapas dan Remau Baku Tuo di Kecamatan Sadu.

Para pelaku menarik kayu hasil tebangan melalui jalur-jalur parit atau sungai kecil menuju industri perkapalan. "Ada sekitar 50 unit usaha perkapalan yang mendapat pasokan kayu dari hasil curian di kawasan Berbak,” lanjutnya.

Sebagian kayu dijual untuk pembangunan gedung-gedung walet dan pembangunan permukiman di desa-desa sekitar TNB.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau