LONDON, KOMPAS.com - Laga antara Chelsea dan Barcelona di babak semifinal Liga Champions bukan sekadar urusan persaingan raksasa Inggris dan Spanyol di kancah Eropa, bukan pula sekadar urusan balas dendam tim berjuluk "The Blues" itu atas kenyataan pahit di Liga Champions musim 2008-09 ketika gagal melaju ke semifinal karena kalah gol tandang dari pasukan Pep Guardiola tersebut.
Laga ini menjadi salah satu tonggak pertaruhan karier bagi pelatih sementara Chelsea, Roberto Di Matteo, untuk menegaskan posisinya di Stamford Bridge. Di Matteo bisa membuktikan diri. Apalagi, leg pertama, Rabu (18/4/2012), ini digelar di rumah sendiri.
Jika Chelsea memperoleh hasil positif dalam dua leg laga melawan tim yang disebut-sebut sebagai tim terbaik di dunia itu, duduk dalam empat besar klasemen Premier League dan mampu memenangkan Piala FA, bukan tak mungkin pemilik klub, Roman Abramovich, itu akan luluh hatinya dan mengangkatnya sebagai pelatih kepala dan tetap untuk Frank Lampard dan kawan-kawan.
Abramovich tentu menunggu momen yang tepat. Pasalnya, rapor Di Matteo dalam 12 pertandingan terakhir di semua kompetisi sejak pemecatan Andre Villas-Boas terbilang baik. Pelatih sementara berusia 41 tahun itu sudah membawa timnya menang sebanyak sembilan kali.
Mantan pelatih Chelsea yang juga pernah dipecat oleh Abramovich, Claudio Ranieri, mengatakan bahwa Di Matteo memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi manajer tim.
"Jika dia memenangkan Piala FA dan berada di posisi keempat (Premier League), mengapa tidak? Roberto telah memulai dengan baik. Roberto adalah orang yang tepat untuk melakukan sesuatu yang baik di sana," katanya seperti dilansir oleh BBC Sport.
Ranieri yang pernah membesut Chelsea dari tahun 2000 sampai 2004 mengaku tertegun ketika menyaksikan langsung laga di Wembley, hari Minggu lalu, ketika pasukan Di Matteo itu menggebuk Tottenham Hotspur dengan skor 5-1 di semifinal Piala FA sehingga berhak maju ke final melawan Liverpool bulan depan.
Sementara itu, saat ini, Chelsea duduk di peringkat keenam papan klasemen sementara Premier League, dua poin di belakang Spurs yang duduk tempat keempat dan Newcastle di tempat kelima dengan lima laga tersisa. Pengalaman minim Di Matteo tentu tak akan ada apa-apanya jika mampu mengantarkan Chelsea untuk mencetak prestasi berganda di musim ini.
Pep dan Chelsea
Jika ada yang mungkin mengganggu jalan Di Matteo, pelatih Barcelona, Pep Guardiola, mungkin menjadi salah satunya, selain pelatih Real Madrid, Jose Mourinho. Kedua nama ini memang disebut-sebut menjadi incaran favorit Abramovich untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Villas-Boas.
Namun, Pep membantah bahwa laga semifinal Liga Champions ini menghubungkan dirinya dengan karier di Chelsea menyusul belum jelasnya perpanjangan kontrak pelatih berusia 41 tahun itu yang akan berakhir pada musim panas ini.
"Itu cuma khayalan, hipotesis saja. Sekarang saya pelatih Barcelona dan mereka (Chelsea) memiliki manajer yang sangat baik (Roberto Di Matteo) yang selalu mendapatkan hasil yang luar biasa. Tak berguna untuk Chelsea maupun Barcelona untuk membicarakan hal ini. Tak ada waktu untuk membicarakannya," tegasnya kepada BBC Sport.
Meski memberikan bantahan, Pep masih enggan membahas rencana kontrak kepelatihannya ke depan di Camp Nou.
"Saya hanya ingin fokus pada pertandingan ini. Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan, berada di sini menjelang laga yang hebat. Saya hanya ingin memastikan pemain saya fokus pada pertandingan dan dapat menikmati bermain dalam pertandingan seperti itu," tuturnya kemudian.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang