Yacimientos Petrolíferos Fiscales (YPF) adalah perusahaan negara Argentina yang didirikan pada dekade 1920-an. Perusahaan ini diprivatisasi atas perintah Dana Moneter Internasional tahun 1990-an karena Argentina bangkrut. Repsol kemudian memiliki sekitar 57,4 persen saham YPF.
Presiden Argentina Cristina Fernandez mengumumkan nasionalisasi YPF, yang selama 90 tahun terakhir menguasai telak kekayaan migas Argentina.
Menurut Spanyol, tindakan gegabah Argentina tersebut telah menghancurkan ”kesepahaman yang terjalin baik” di antara kedua negara.
”Spanyol akan mengambil semua langkah yang tepat untuk mempertahankan kepentingan bisnis Spanyol,” ujar Menteri Industri Jose Manuel Soria, di Madrid, Rabu (18/4).
Spanyol akan mengambil langkah diplomasi, perdagangan, industri, dan energi. Soria tidak merinci tindakan apa saja yang akan diambil.
Pemerintah Spanyol memanggil Duta Besar Argentina untuk Spanyol Carlos Bettini untuk kedua kalinya dalam lima hari terakhir untuk ditanyai mengapa Buenos Aires tidak mengindahkan peringatan Madrid agar Pemerintah Argentina tidak mencampuri YPF. Pemerintah akan mendukung Repsol menempuh jalur hukum.
Saham Repsol terus melorot di bursa New York dan akhirnya dihentikan perdagangannya selama dua hari. Keputusan Argentina mengambil alih 51 persen saham YPF akan menghilangkan kepemilikan Repsol.
Lembaga pemeringkat Moody’s Investor Services menurunkan peringkat YPF menjadi B3 dari Ba3, artinya rawan pada kebangkrutan. Moody’s juga memperingatkan penurunan peringkat lanjutan bisa terjadi. Penurunan peringkat mencerminkan ketidakpastian YPF.
Tindakan Argentina mengambil alih YPF mungkin akan memecahkan masalah krisis energi di negara itu dalam waktu singkat. Hal ini juga akan menyebabkan banyak pihak yang menyalahkan catat privatisasi YPF. Namun, analis menyatakan, aksi itu memberikan sinyal negatif bagi investor di Argentina.
”Rencana tersebut mengirimkan kesan buruk terhadap Argentina karena negara ini merusak milik orang lain,” kata Sergio Berensztein dari sebuah perusahaan konsultasi Poliarquia di Buenos Aires.
Presiden Cristina sebelumnya telah menasionalisasi maskapai penerbangan dan pengelola dana pensiun swasta. Nasionalisasi ini dilakukan untuk meraih dana guna mengambil alih YPF.
Dia menuduh Repsol memprovokasi krisis energi dengan mengekspor terlalu banyak minyak Argentina dan tidak berinvestasi di Argentina, tetapi menabur dividen besar di luar.
Presiden Repsol Antonio Brufau membantah tuduhan itu. Nasionalisasi YPF, katanya, sebagai tindakan coba-coba yang diharapkan dapat meningkatkan popularitas Presiden yang turun.
Menurut Brufau, nasionalisasi dianggap menutupi penurunan popularitas terkait skandal yang melibatkan pemerintahan, kenaikan inflasi. Hal itu juga dianggap menutupi penurunan aktivitas perekonomian serta pengurangan subsidi transportasi dan fasilitas umum hingga kecelakaan kereta api yang menelan korban.
Lepas dari itu, banyak orang berkerumun menyambut aksi Presiden, termasuk kelompok yang pernah menguasai sumur minyak YPF di La Plata. Mereka menggantikan bendera ”perusahaan Repsol” dengan bendera Argentina di ladang minyak itu.
Perusahaan China berniat berinvestasi di sektor energi Argentina. Presiden sudah menunjuk Menteri Perekonomian Julio de Vido dan Wakil Menteri Perekonomian Axel Kicillof mengelola perusahaan.