Madrid Balas Dendam

Kompas.com - 19/04/2012, 02:17 WIB

Madrid, Rabu - Hubungan Argentina dan Spanyol makin memanas. Madrid mengancam akan membalas dendam setelah Argentina mengumumkan akan mengambil alih anak perusahaan Repsol (Spanyol) di Argentina.

Yacimientos Petrolíferos Fiscales (YPF) adalah perusahaan negara Argentina yang didirikan pada dekade 1920-an. Perusahaan ini diprivatisasi atas perintah Dana Moneter Internasional tahun 1990-an karena Argentina bangkrut. Repsol kemudian memiliki sekitar 57,4 persen saham YPF.

Presiden Argentina Cristina Fernandez mengumumkan nasionalisasi YPF, yang selama 90 tahun terakhir menguasai telak kekayaan migas Argentina.

Menurut Spanyol, tindakan gegabah Argentina tersebut telah menghancurkan ”kesepahaman yang terjalin baik” di antara kedua negara.

”Spanyol akan mengambil semua langkah yang tepat untuk mempertahankan kepentingan bisnis Spanyol,” ujar Menteri Industri Jose Manuel Soria, di Madrid, Rabu (18/4).

Spanyol akan mengambil langkah diplomasi, perdagangan, industri, dan energi. Soria tidak merinci tindakan apa saja yang akan diambil.

Pemerintah Spanyol memanggil Duta Besar Argentina untuk Spanyol Carlos Bettini untuk kedua kalinya dalam lima hari terakhir untuk ditanyai mengapa Buenos Aires tidak mengindahkan peringatan Madrid agar Pemerintah Argentina tidak mencampuri YPF. Pemerintah akan mendukung Repsol menempuh jalur hukum.

Saham Repsol terus melorot di bursa New York dan akhirnya dihentikan perdagangannya selama dua hari. Keputusan Argentina mengambil alih 51 persen saham YPF akan menghilangkan kepemilikan Repsol.

Lembaga pemeringkat Moody’s Investor Services menurunkan peringkat YPF menjadi B3 dari Ba3, artinya rawan pada kebangkrutan. Moody’s juga memperingatkan penurunan peringkat lanjutan bisa terjadi. Penurunan peringkat mencerminkan ketidakpastian YPF.

Privatisasi catat

Tindakan Argentina mengambil alih YPF mungkin akan memecahkan masalah krisis energi di negara itu dalam waktu singkat. Hal ini juga akan menyebabkan banyak pihak yang menyalahkan catat privatisasi YPF. Namun, analis menyatakan, aksi itu memberikan sinyal negatif bagi investor di Argentina.

”Rencana tersebut mengirimkan kesan buruk terhadap Argentina karena negara ini merusak milik orang lain,” kata Sergio Berensztein dari sebuah perusahaan konsultasi Poliarquia di Buenos Aires.

Presiden Cristina sebelumnya telah menasionalisasi maskapai penerbangan dan pengelola dana pensiun swasta. Nasionalisasi ini dilakukan untuk meraih dana guna mengambil alih YPF.

Dia menuduh Repsol memprovokasi krisis energi dengan mengekspor terlalu banyak minyak Argentina dan tidak berinvestasi di Argentina, tetapi menabur dividen besar di luar.

Presiden Repsol Antonio Brufau membantah tuduhan itu. Nasionalisasi YPF, katanya, sebagai tindakan coba-coba yang diharapkan dapat meningkatkan popularitas Presiden yang turun.

Menurut Brufau, nasionalisasi dianggap menutupi penurunan popularitas terkait skandal yang melibatkan pemerintahan, kenaikan inflasi. Hal itu juga dianggap menutupi penurunan aktivitas perekonomian serta pengurangan subsidi transportasi dan fasilitas umum hingga kecelakaan kereta api yang menelan korban.

Lepas dari itu, banyak orang berkerumun menyambut aksi Presiden, termasuk kelompok yang pernah menguasai sumur minyak YPF di La Plata. Mereka menggantikan bendera ”perusahaan Repsol” dengan bendera Argentina di ladang minyak itu.

Perusahaan China berniat berinvestasi di sektor energi Argentina. Presiden sudah menunjuk Menteri Perekonomian Julio de Vido dan Wakil Menteri Perekonomian Axel Kicillof mengelola perusahaan. (Reuters/AFP/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau