Satu bulan direhabilitasi

Anak Pecandu Rokok Tersenyum Kembali

Kompas.com - 19/04/2012, 12:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana bahagia kini menyelimuti pasangan suami istri Umar (40) dan Rena (35). IH (8), putra sulungnya kini telah terbebas dari belenggu kecanduan tembakau setelah menjalani rehabilitasi medis dan psikologis selama 1 bulan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, seorang anak yang mengalami kecanduan tembakau sejak usia 4 tahun berontak di Kantor Komnas PA demi sebatang rokok. Kala itu, perilaku bocah yang juga putus sekolah tersebut tampak tak beradat. Meludah, memaki, menangis, berontak, bahkan tak segan-segan dia memukul orang disekitarnya untuk mendapatkan sebatang rokok.

Saat dihadirkan di aula Komnas PA, Kamis (19/4/2012), IH tampak lebih bersih dan rapih dari sebelumnya. Perilakunya pun tampak sopan. Dengan mengenakan baju berwarna krem dengan sepatu hitam, dia pun menyapa para wartawan yang sejak sebelumnya menunggu kehadiran bocah malang tersebut. "Assalamualaikum semuanya," ujarnya sambil tersenyum dan menghampiri satu persatu orang dan menyalaminya.

Sekretaris Jenderal Komnas PA, Arist Merdeka Sirait mengungkapkan, hari ini merupakan hari monumental karena pihaknya bekerjasama dengan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Cipayung, Jakarta Timur akan mengembalikan IH kepada orangtuanya setelah direhabilitasi.

Selama satu bulan, pihaknya melakukan sejumlah langkah untuk memulihkan IH dari kecanduannya yang membabi-buta. IH pun diketahui sempat kabur tiga kali saat proses rehabilitasi, beruntung dengan usaha yang kuat, perilaku negatif IH bisa diminimalisasi.

"Kami berikan terapi berhenti merokok dengan metode Spiritual Emotion Freedom Thecnic (SEFT), bersosialisasi dengan teman sebaya, pendampingan psikologis bagi IH," ujarnya.

Selain itu, Arist juga mengatakan kecanduan bocah tersebut terhadap tembakau tak terlepas dari peran orangtua dalam pola pendidikan anaknya. Untuk itu, terapi untuk penguatan pola asuh bagi orangtua IH pun juga dilakukan.

"Diskusi komunikasi kepada anak, tujuannya sharing pengalaman, supaya orang tua dapat bernegosiasi dengan IH ketika ia marah. Selain itu ada pelatihan mendongeng untuk anak, tujuannya meningkatkan keterampilan orang tua memberikan aktifitas edukatif bagi IH," katanya.

Umar sang ayah, mengapresiasi usaha yang dilakukan oleh Komnas PA serta pihak terkait dalam menyembuhkan anaknya. Ia pun bertekad untuk melakukan segala usaha agar putera sulungnya tersebut dapat benar-benar terbebas dari kecanduan tembakau. Terbukti bahwa Umar telah berhenti merokok setelah mendapatkan terapi tersebut.

"Alhamdulilah, anak saya sudah berubah, meskipun masih ada sedikit kalau dia ngeliat orang merokok, itu dia minta lagi, tapi setelah diingatkan ya dia mengerti. Mangkanya rokok itu harus jauh-jauh dari dia," ujar Umar.

Selanjutnya, Umar pun berencana memasukan IH ke pesantren untuk mendukung tumbuh kembang sisi akademisnya. Rekomendasi Kepada Pemkab Sukabumi Arist melanjutkan, pada dasarnya proses rehabilitasi tak berhenti sampai disini, faktor penentu selanjutnya adalah pihak keluarga dalam melakukan pola asuh yang baik bagi tumbuh kembang anak, termasuk menjauhkan IH dari iklan rokok, orang-orang yang merokok dan sebagainya.

Rekomendasi juga diberikan kepada Dinas Kesehatan Pemerintah Sukabumi untuk melakukan pemeriksaan intensif bagi kesehatan dan perbaikan gizi IH.

"Yang paling penting melakukan pengorganisasian lingkungan tempat tinggal IH agar kondusif dari ketergantungan tembakau dan mendorong kampung sehat atau kampung bebas rokok," kata Arist.

"Dadaah semuanya," ujar IH kepada semua orang saat mengantarkan satu keluarga tersebut pulang ke kampungnya di Jalan Selabintana, Kampung Krawang Girang, Sukabumi Jawa Barat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau