JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana bahagia kini menyelimuti pasangan suami istri Umar (40) dan Rena (35). IH (8), putra sulungnya kini telah terbebas dari belenggu kecanduan tembakau setelah menjalani rehabilitasi medis dan psikologis selama 1 bulan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, seorang anak yang mengalami kecanduan tembakau sejak usia 4 tahun berontak di Kantor Komnas PA demi sebatang rokok. Kala itu, perilaku bocah yang juga putus sekolah tersebut tampak tak beradat. Meludah, memaki, menangis, berontak, bahkan tak segan-segan dia memukul orang disekitarnya untuk mendapatkan sebatang rokok.
Saat dihadirkan di aula Komnas PA, Kamis (19/4/2012), IH tampak lebih bersih dan rapih dari sebelumnya. Perilakunya pun tampak sopan. Dengan mengenakan baju berwarna krem dengan sepatu hitam, dia pun menyapa para wartawan yang sejak sebelumnya menunggu kehadiran bocah malang tersebut. "Assalamualaikum semuanya," ujarnya sambil tersenyum dan menghampiri satu persatu orang dan menyalaminya.
Sekretaris Jenderal Komnas PA, Arist Merdeka Sirait mengungkapkan, hari ini merupakan hari monumental karena pihaknya bekerjasama dengan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Cipayung, Jakarta Timur akan mengembalikan IH kepada orangtuanya setelah direhabilitasi.
Selama satu bulan, pihaknya melakukan sejumlah langkah untuk memulihkan IH dari kecanduannya yang membabi-buta. IH pun diketahui sempat kabur tiga kali saat proses rehabilitasi, beruntung dengan usaha yang kuat, perilaku negatif IH bisa diminimalisasi.
"Kami berikan terapi berhenti merokok dengan metode Spiritual Emotion Freedom Thecnic (SEFT), bersosialisasi dengan teman sebaya, pendampingan psikologis bagi IH," ujarnya.
Selain itu, Arist juga mengatakan kecanduan bocah tersebut terhadap tembakau tak terlepas dari peran orangtua dalam pola pendidikan anaknya. Untuk itu, terapi untuk penguatan pola asuh bagi orangtua IH pun juga dilakukan.
"Diskusi komunikasi kepada anak, tujuannya sharing pengalaman, supaya orang tua dapat bernegosiasi dengan IH ketika ia marah. Selain itu ada pelatihan mendongeng untuk anak, tujuannya meningkatkan keterampilan orang tua memberikan aktifitas edukatif bagi IH," katanya.
Umar sang ayah, mengapresiasi usaha yang dilakukan oleh Komnas PA serta pihak terkait dalam menyembuhkan anaknya. Ia pun bertekad untuk melakukan segala usaha agar putera sulungnya tersebut dapat benar-benar terbebas dari kecanduan tembakau. Terbukti bahwa Umar telah berhenti merokok setelah mendapatkan terapi tersebut.
"Alhamdulilah, anak saya sudah berubah, meskipun masih ada sedikit kalau dia ngeliat orang merokok, itu dia minta lagi, tapi setelah diingatkan ya dia mengerti. Mangkanya rokok itu harus jauh-jauh dari dia," ujar Umar.
Selanjutnya, Umar pun berencana memasukan IH ke pesantren untuk mendukung tumbuh kembang sisi akademisnya. Rekomendasi Kepada Pemkab Sukabumi Arist melanjutkan, pada dasarnya proses rehabilitasi tak berhenti sampai disini, faktor penentu selanjutnya adalah pihak keluarga dalam melakukan pola asuh yang baik bagi tumbuh kembang anak, termasuk menjauhkan IH dari iklan rokok, orang-orang yang merokok dan sebagainya.
Rekomendasi juga diberikan kepada Dinas Kesehatan Pemerintah Sukabumi untuk melakukan pemeriksaan intensif bagi kesehatan dan perbaikan gizi IH.
"Yang paling penting melakukan pengorganisasian lingkungan tempat tinggal IH agar kondusif dari ketergantungan tembakau dan mendorong kampung sehat atau kampung bebas rokok," kata Arist.
"Dadaah semuanya," ujar IH kepada semua orang saat mengantarkan satu keluarga tersebut pulang ke kampungnya di Jalan Selabintana, Kampung Krawang Girang, Sukabumi Jawa Barat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang