Sinergi UGM-Keraton agar Hasilkan Inovasi Pendidikan dan Kebudayaan

Kompas.com - 20/04/2012, 05:54 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Universitas Gadjah Mada diharapkan bisa bersinergi dengan Keraton sebagai entitas kebudayaan dalam mendorong kemajuan peradaban bangsa di bidang pendidikan dan kebudayaan. Harapan itu merupakan kesinambungan hubungan UGM-Keraton yang sudah terjalin sejak berdirinya kampus UGM. Bahkan masa-masa awal eksistensi UGM, tidak lepas dari dukungan Almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang mencita-citakan agar UGM menjadi "Miniatur Indonesia" di bidang pendidikan.

Hal itu disampaikan oleh ketua Umum Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) sekaligus Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam diskusi 'Sinergi UGM dengan Keraton untuk Kemajuan Bangsa' di gedung University Club, Kamis (19/4/2012). Sinergi UGM-Keraton menurut hemat Sultan harus menerapkan tiga prinsip dasar, pertama kesediaan untuk saling berbagi. Tanpa kesediaan untuk saling berbagi , sinergi tidak bisa terlaksana.

"Dengan saling berbagi ide, pengetahuan, keahlian, dan pengalaman, sinergi bisa dilakukan. Di sinilah kekuatan dari sinergi itu dapat ditemukan," katanya.

Kedua, berpikir "menang-menang". Karena dalam bersinergi, tidak ada pihak yang harus kalah atau menang. Sebaliknya, semua pihak dapat menikmati kemenangan dan manfaat yang jauh lebih besar daripada jika mereka mengerjakannya sendiri-sendiri.

Ketiga, menghargai perbedaan. Dari perbedaan-perbedaan yang unik kemudian dijalin kerjasama kreatif-inovatif yang menghasilkan alternatif ketiga memberikan manfaat optimal bagi pihak-pihak yang bersinergi.

Sultan juga mengusulkan model sinergi dalam bentuk "triple helix", yakni kerjasama antar inovator pemerintah, universitas, lembaga riset, dan industri. Kerjasama tersebut didorong untuk penciptaan, penyebaran, dan penggunaan ilmu pengetahuan guna pencapaian inovasi proses perwujudan ide-ide kreatif, hingga menghasilkan output yang memiliki nilai akademik, nilai budaya maupun nilai ekonomis.

Di tempat yang sama Budayawan Prof Dr C Bakdi Soemanto, SU, mengatakan, Keraton adalah gudangnya warisan budaya yang memiliki rentang sejarah yang panjang. Oleh karena itu, UGM bisa menggunakan Keraton sebagai sumber ilmu yang terus digali, diseminarkan dan disebarluaskan. Tidak hanya itu, UGM bisa belajar banyak tentang kerendahan hati sosok Sri Sultan HB IX dan semangatnya untuk tetap mencintai kebudayaan sendiri. "Semangat Keraton sangat merakyat, paling tidak lewat sinergi Keraton-UGM ini akan mengembalikan UGM kepada rakyatnya dengan sebutan universitas nDesa yang membangggakan," ungkapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau