Setelah selama bertahun-tahun melihat kucuran bonus dalam jumlah besar dan kenaikan gaji melampaui pertumbuhan laba perbankan. Karena itu, investor menyerukan perlu diadakan perubahan.
”Kadang kala menjadi pemegang saham perbankan bukan merupakan pengalaman yang menarik, hal ini akan terus terjadi karena tampaknya tidak ada perubahan yang cepat,” demikian pernyataan salah satu perusahaan manajer investasi yang menjadi pemegang dalam daftar pemilik 25 teratas pada bank HSBC, Barclays, Lloyds, dan RBS di London, Minggu (22/4).
Investor mengatakan, perusahaannya akan menentang laporan pemberian remunerasi dalam semua rapat umum pemegang saham (RUPS) yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini.
Kemarahan pemegang saham ini sangat jelas tampak pada saat mereka menolak rencana pemberian bonus kepada petinggi bank AS, Citigroup. Pemegang saham pada RUPS Citigroup, akhir pekan lalu, menolak mentah-mentah rencana pemberian bonus untuk CEO Vikram Pandit dan empat eksekutif lainnya. Menurut mereka, jajaran direksi gagal memperbaiki kinerja bank itu dalam beberapa tahun belakangan ini.
”Isu ini tampaknya akan berkembang dan merupakan perwujudan kemarahan pemegang saham dari sejumlah tempat di Eropa dan AS,” ujar Richard J Hunter dari Hargreaves Lansdown Stockbrokers.
Pemegang saham tidak setuju dengan rencana kompensasi untuk lima eksekutif tingkat atas Citigroup. Termasuk paket kompensasi untuk Pandit sebesar 14,9 juta dollar AS hanya untuk tahun 2011. Sepanjang tahun 2010, Pandit mendapatkan gaji sebesar 1 dollar AS saja.
Pandit terus berada dalam tekanan. Saham Citigroup tetap berada di bawah 40 dollar AS sejak Agustus lalu. Padahal, sebelum krisis finansial 2007, saham Citigroup selalu berada di atas 500 dollar AS per unit.
Hal serupa terjadi pada pemegang saham Barclays. Di London, mereka melakukan ”revolusi” terhadap rencana pemberian bonus tahunan kepada CEO-nya, Bob Diamond, sebesar 4,3 miliar dollar AS.
Diamond dan Direktur Keuangan Grup Chris Lucas akhirnya sepakat, pada pekan lalu, tidak menerima separuh dari bonus saham mereka untuk tahun 2011 jika tidak dapat memenuhi target-target keuangan tertentu dalam tiga tahun ke depan.
”Perkembangan terakhir dari Barclays merupakan bukti bahwa remunerasi akan semakin terkait dengan keuntungan seluruh grup,” ujar Hunter lagi. Kinerja keuangan Barclays jauh di bawah harapan investor.
Pemberontakan pemegang saham terhadap kompensasi bagi eksekutifnya semakin intensif pada awal April lalu. Hal itu terjadi ketika investor institusi besar, yaitu Pensions & Investment Research Consultants (Pirc), menyatakan bahwa Diamond sama sekali tidak layak mendapat bonus sepeser pun.
Mei depan, bank yang akan melakukan RUPS adalah HSBC, Lloyds, RBS, dan Standard Chartered. Tahun lalu, ada 8,1 persen pemegang saham Lloyds yang menolak soal pemberian bonus, sementara 10 persen abstain. Setelah ditambah dengan saham pemerintah, total 40 persen pemegang saham menolak pemberian bonus.
Sementara pada rapat umum pemegang, 22 persen pemegang saham HSBC menolak tentang bonus, sementara 21 persen pemegang saham Standard Chartered melakukan hal serupa.
Bahkan, bank besar pun kesulitan memberikan laba yang memuaskan bagi pemegang saham, terkait makin ketatnya aturan perbankan serta kondisi perekonomian yang kurang baik. Biaya harus dipangkas dengan lebih banyak lagi, demikian permintaan investor.
Perbankan terus berupaya memangkas biaya, merampingkan unit yang tidak menguntungkan, khususnya bank investasi, agar dapat beradaptasi dengan perubahan peraturan dan perlu memiliki modal lebih banyak lagi.
Akan tetapi, beberapa investor mengatakan tanpa pengurangan biaya secara besar-besaran, laba yang diberikan kepada investor tidak akan cukup untuk membuat investor tetap menanamkan modalnya.
”Dengan perubahan bisnis model seperti ini, kami yakin remunerasi perbankan akan disesuaikan bertahap sehingga lebih mencerminkan keuntungan yang lebih rendah dan volatilitas,” ujar George Dallas, Direktur Tata Kelola Perusahaan pada F&C.