Un smp

Hari Pertama UN, Pelajar Dihantui Atap Roboh

Kompas.com - 23/04/2012, 12:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana hening mewarnai 249 siswa SMP 198, Duren Sawit, Jakarta Timur mengerjakan soal Ujian Nasional di hari pertama. Sesekali, 20 pelajar yang berada di salah satu kelas tersebut tampak memandang ke langit-langit kelas seluas 8x10 meter persegi, dengan wajah berfikir keras. Mereka pun melanjutkan mengerjakan ujian.

Tingkah mereka tersebut bukan hanya merupakan bentuk kerasnya berfikir mengerjakan 50 soal Bahasa Indonesia yang ada di depannya, namun mereka terpaksa harus berbagi konsentrasi dengan perasaan takut, atap kelas mereka roboh karena tak kunjung diperbaiki oleh pemerintah.

"Takut bangetlah, khawatir kalau ujian ngeri roboh aja, orang kondisinya sudah begitu. Kan kaminya jadi nggak konsentrasi ngerjain soal," ujar Tasya Julia (14), siswa kelas IX sekolah tersebut kepada Kompas.com usai mengikuti ujian, Senin (23/4/2012).

Bangunan SMP 198 berada di lahan seluas 4.000 meter persegi dengan jumlah siswa 800. Tata letak bangunan sekolah hampir mirip dengan sekolah kebanyakan, kelas-kelas berjejer membentuk persegi panjang dengan lapangan olahraga di bagian tengah. Pemandangan kontradiktif pun dapat terlihat di antara jejeran bangunan kelas tersebut.

Sebagian kelas tampak rapih dan kokoh dengan dominasi cat berwarna krem, sementara satu baris yang terdiri dari dua kelas tampak tak sekokoh kelas disekitarnya. Satu diantaranya terpaksa dikosongkan demi keselamatan siswa karena atapnya rusak, sementara satu kelas masih dipergunakan untuk kegiatan Ujian Nasional meskipun atapnya sudah bergelombang, rawan roboh.

Tak hanya atap kelas, koridor yang berada di depan kelas tersebut juga dalam kondisi memprihatinkan. Tiang kayu bercat hijau terlihat sudah keropos, beberapa malah disanggah dengan potongan kayu. Pada bagian atap juga bolong sehingga siapapun yang berada di bawahnya bisa melihat genting di atasnya. Tak ada yang tahu, bahaya atap roboh setiap saat bisa mengintai di sela-sela keriangan para murid.

Kepala SMP 198, Amer Manullang mengungkapkan, kondisi tersebut terpaksa menjadi bagian dari kegiatan belajar mengajar para murid sejak 2009 silam karena dana yang telah diajukan ke pemerintah tak kunjung datang. Untuk Ujian Nasional ini pihaknya menggunakan 13 ruang. Berhubung terdapat satu ruang yang tidak dapat digunakan, 20 siswa terpaksa harus dipindahkan ke ruang lain yang lebih kecil.

"Karena kondisi bangunan sangat memprihatinkan, ruangan yang lain terpaksa ditopang atapnya, karena tukang bilang bisa dipakai satu bulan ini. Kami sebenarnya dari pihak sekolah sudah minta kepada pemerintah tahun 2012, tapi yang namanya pemerintah, dana pasti terbatas," ujarnya.

Sekolah yang dibangun pada tahun 1979 tersebut, dikatakan Amer telah mendapatkan rehabilitasi total pada tahun 2009 lalu. Namun, renovasi tersebut masih menyisakan satu bangunan dengan dua kelas yang kondisinya sekarang memprihatinkan.

"Rehab berat pertama itu tahun 2009, nah harusnya tahun 2010 dbangun lagi, mungkin ada sekolah yang lebih parah dari kondisi kami, jadi mereka dulu dibangun," lanjutnya.

Ia pun kerap ditanyai oleh anak didiknya perihal kondisi kelas yang tak kunjung diperbaiki, namun lagi-lagi hanya bujukan agar sang murid bersabar menunggu dana pembangunan sekolah dari pemerintah yang tak kunjung datang. Ia dan para guru berusaha memberikan pengertian kepada para murid agar mengerti akan kondisi tersebut.

Sambil membetulkan tali tas berwarna pinknya, Tasya pun berharap, kondisi demikian hanya dirasakan oleh pelajar di angkatannya saja. Ia tak mau ketakutan akan atap roboh juga dirasakan oleh adik-adik kelasnya.

"Ya cepat diperbaiki, biar adik-adik kelas bisa nyaman pas ujian, nggak kaya kita," ujarnya sembari berlari lincah menuju teman-temannya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau