Korut Siap Uji Nuklir

Kompas.com - 25/04/2012, 02:52 WIB

BEIJING, SELASA - Pemerintah Korea Utara dipastikan hampir menuntaskan tahap persiapan uji coba nuklir ketiga mereka, yang diyakini bakal kembali memicu kontroversi dan kecaman dunia, tak lama setelah kegagalan peluncuran roket jarak jauh mereka pekan lalu.

Kepastian itu disampaikan salah seorang sumber yang punya hubungan dekat dengan pihak Pyongyang dan Beijing, Selasa (24/4).

”Segera. Persiapan mereka sudah hampir komplet,” ujar sumber senior tadi.

Sejumlah pengamat menyebut peluncuran roket jarak jauh Korut kemarin pada intinya untuk mengasah kemampuan negeri itu membangun peluru kendali balistik, yang bisa menyasar target bahkan sampai ke wilayah Amerika Serikat.

Jika hal itu sampai terjadi, kapabilitas dan bobot militer serta diplomatik negeri itu dipastikan akan langsung ikut meroket di mata dunia.

Analisis lain menyebut langkah ”unjuk gigi” yang dilakukan Korut belakangan ini lebih bertujuan mengokohkan sosok pemimpin baru mereka, Kim Jong Un, yang oleh banyak kalangan dinilai masih terlalu muda dan belum berpengalaman.

Jong Un ”naik takhta” tak lama setelah kematian ayahnya, Kim Jong Il, Desember lalu.

Dalam pidato perdananya pekan lalu, Jong Un menekankan bakal tetap melanjutkan kebijakan lama, yang lebih mengutamakan militer dan pembangunan kekuatan persenjataan nuklir ketimbang mengurus ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Lebih lanjut, hingga sekarang tanggal pasti uji coba nuklir Korut masih spekulatif. Akan tetapi, sejumlah negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan AS menanti dengan tegang perkembangannya dari waktu ke waktu.

Sejumlah kalangan yakin Korut sudah mampu mengujicobakan nuklir berbahan uranium yang sangat diperkaya (highly enriched uranium), setara dengan bahan serupa bom atom yang dijatuhkan AS di Hiroshima, Jepang, tujuh dekade lalu.

Terkait kemungkinan China membantu persenjataan Korut dan program nuklirnya, dosen ilmu politik Universitas Sogang di Seoul, Kim Young-soo, menyebut China bertindak seperti bunglon saat menghadapi Korut.

”Mereka (China) bilang keberatan dengan provokasi Korut, tapi mereka tidak ikut menghukumnya,” ujar Young-soo.

Sementara itu, saat bertemu pers di kantornya di Jakarta, Duta Besar AS Scot Marciel mempersilakan Pemerintah Indonesia memutuskan sendiri terkait rencana kunjungan orang kedua Korut, Kim Yong Nam, ke Indonesia yang diperkirakan Juni mendatang.

”Namun, sangat penting bagi masyarakat dunia untuk memahami apa yang telah dilakukan negeri itu, termasuk dampaknya pada rakyat Korut sendiri,” ujar Scot. (REUTERS/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau