Evaluasi Bahasa Pengantar RSBI

Kompas.com - 26/04/2012, 07:28 WIB

Jakarta, Kompas - Penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar di sekolah berstatus rintisan bertaraf internasional atau RSBI diminta untuk dihentikan. Peningkatan kemampuan berbahasa Inggris bagi siswa tidak harus dengan mengganti bahasa pengantar di sekolah.

Dalam praktik di RSBI, pembelajaran disampaikan dalam dua bahasa. Untuk pelajaran Matematika, Sains (Fisika, Kimia, dan Biologi), serta Bahasa Inggris disampaikan dalam bahasa Inggris. Pelajaran lainnya dalam bahasa Indonesia.

Itje Chodijah, pelatih pendidikan Bahasa Inggris di Jakarta, Rabu (25/4), mengatakan, kemampuan guru berkomunikasi dalam bahasa Inggris untuk dapat mengajar dengan baik setidaknya untuk ukuran test of English international communication minimal 800. Namun, dari data Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan soal kemampuan berbahasa Inggris guru dengan skor mencapai 800 ke atas untuk guru Biologi, Matematika, Kimia, dan Fisika hanya berkisar 1 persen-2,9 persen dari guru RSBI. Adapun guru Bahasa Inggris dengan skor ini hanya 5,6 persen guru.

”Penguasaan bahasa Inggris bagi siswa memang penting. Tetapi, kan bisa dengan memperbaiki pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah,” ujar Itje.

Ia menuturkan, dirinya sering diminta melatih guru-guru RSBI untuk bisa mengajar dalam bahasa Inggris. Pelatihan dilakukan berkisar lima hari yang diikuti puluhan guru. ”Mengajar mata pelajaran lain dalam bahasa Inggris tidak semudah itu,” ujarnya.

Dalam rangkuman penelitian program RSBI di Indonesia yang didukung British Council, sebenarnya direkomendasikan untuk tidak menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Masitha Achmad Syukri, pengajar di Departemen Sastra Inggris di Universitas Airlangga, Surabaya, mengatakan, perhatian yang tercurah lebih besar pada peningkatan kemampuan bahasa Inggris di sekolah berkontribusi pada pembentukan kerangka berpikir siswa bahwa bahasa Inggris lebih penting bagi masa depan mereka.

”Bisa saja siswa merasa lebih bergengsi untuk mempelajari bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia,” kata Mashita.

Kursus bahasa

Nilawati Hadisantosa, pengajar di Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, mengatakan guru- guru RSBI memang diikutkan kursus bahasa Inggris. Namun, kursus bahasa Inggris itu masih dalam taraf bahasa Inggris yang umum dipakai sehari-hari, bukan bahasa Inggris akademis yang dipakai sekolah untuk mengajar.

Tidak heran jika di banyak sekolah RSBI ditemukan penggunaan slogan-slogan umum dengan terjemahan bahasa Inggris yang kadang-kadang terasa aneh. Terjemahan tersebut merupakan harfiah kata per kata.

Menurut Nilawati, orangtua mendukung penggunaan bahasa Inggris di RSBI, bahkan ada yang memaksa dipakai di semua mata pelajaran. Sikap dan pandangan orangtua terhadap bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dapat memengaruhi sikap dan pandangan anak terhadap bahasa.

Menurut Nilawati, bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahan pengantar pengajaran dalam kelas adalah bahasa akademis yang berbeda dengan bahasa sehari-hari. Butuh waktu lama untuk memiliki kemampuan bahasa akademik daripada bahasa informal sehari-hari. (ELN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau