Pantura

10 Tahun Lagi, Pantura Lebih Rindang oleh Trembesi

Kompas.com - 26/04/2012, 17:31 WIB

PEMALANG, KOMPAS.com - Terhitung hingga Maret 2012 lalu, program Djarum Trees for Life (DTL) telah menanam sebanyak 6.415 pohon trembesi di sepanjang 194 kilometer jalur Pantura, Jawa Tengah. Delapan atau sepuluh tahun ke depan, jalur utama Pantura diharapkan akan lebih teduh berkat kerindangan trembesi.

"Yang penting memang di jalur utamanya, karena memang gersang. Juli nanti penanaman akan sampai Tegal dan tahun ini target kami sampai Losari sebagai perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tahun depan kami sudah mengarah ke Timur, yaitu dari Kudus sampai Lasem," kata Program Director Djarum Foundation, Primadi M Serad, kepada Kompas.com di Jakarta, Kamis (26/4/2012), menanggapi program penanaman trembesi di Pemalang, Pantura, Rabu (25/4/2012) kemarin.

Tahun ini, DTL kembali digelar untuk meneruskan program penanaman pohon trembesi di sepanjang 478 kilometer kawasan Pantura, Jawa Tengah. Program penanaman yang pada 2011 lalu ini selesai dilaksanakan di Semarang-Batang, tahun ini program penanaman diawali di Kabupaten Pemalang. Selain penanaman pohon, DTL juga memberikan bantuan 1.700 bibit trembesi dan tanaman bernilai ekonomis untuk program konservasi selanjutnya di kawasan tersebut.

Primadi mengatakan, sejauh ini kendala paling banyak ditemui adalah pemahaman masyarakat akan pentingnya penghijauan di kawasan tersebut. Kawasan cukup padat kendaraan ini kerap mengundang pengrusakan pohon yang baru ditanam. 

"Kadang ada truk mogok, kemudian tanaman masih berumur pendek ini dicabut untuk dijadikan palang. Tanaman kadang juga dibiarkan jadi sasaran makanan ternak. Kendala paling itu kalau ada yang bakar rumput dan terkena pohon-pohon ini," kata Primadi. 

Untuk itu, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum setempat untuk sama-sama menghimbau masyarakat memelihara tanaman. Primadi mengatakan, sejak masa penanaman, DTL akan melakukan perawatan selama tiga tahun.

"Selama tiga tahun tangki-tangki air kami akan menyirami tanaman-tanaman ini dan akan mengganti tanaman yang rusak. Setelah tiga tahun akan kami lepas dan biarkan masyarakat yang akan merawat," ujar Primadi.

"Saya berharap, jalur Pantura itu benar-benar rindang. Semua orang juga tahu, kawasan ini gersang sekali. Saya yakin, 8-10 tahun itu akan rindang dengan trembesi dan orang akan lalu lalang di situ dengan nyaman," tambahnya.

Sebelumnya, Dr Endes N Dahlan, dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor mengatakan, trembesi atau dikenal dengan Pohon Hujan atau Ki Hujan merupakan tanaman berkanopi seperti payung dengan ukuran daun tak lebih dari ukuran koin Rp 100. Kendati demikian, pohon ini cukup unggul menyerap gas C02 dan cocok untuk kawasan Pantura.

"Ini merupakan satu terobosan untuk mengatasi pemanasan global, mengingat daya serap C02 yang dikandungnya tinggi, karena satu batang trembesi mampu menyerap 28,5 ton gas C02," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau