Ekonomi rakyat

Pasar Tradisional Harus Dilindungi

Kompas.com - 28/04/2012, 03:18 WIB

JEMBER, KOMPAS - Pedagang pasar tradisional meminta pemerintah daerah menghentikan atau membatasi penerbitan izin pendirian pasar modern atau toko swalayan yang mulai menjamur ke pelosok kecamatan dan desa di Jember. Pembatasan ini untuk memberi ruang gerak kepada pedagang di pasar tradisional supaya tetap bergairah.

Hal ini diungkapkan Satyo Hadi, pedagang di Pasar Kencong, dan H Fauzan, pedagang di Pasar Tanjung, Jember, Jawa Timur, Jumat (27/4). ”Keberadaan pasar modern atau swalayan yang mulai menjamur memang tidak mematikan pasar tradisional, tetapi pertumbuhan pasar modern supaya dibatasi,” kata Setyo Hadi.

Pasar modern berupa toko swalayan atau ritel membuat masyarakat ekonomi menengah ke atas enggan ke pasar tradisional untuk berbelanja sembako. Akibatnya, pasar tradisional menjadi lesu dan merana. Setyo Hadi menunjuk contoh, di Kota Kecamatan Kencong, ada lima toko swalayan yang berdekatan dengan pasar tradisional.

Agoes Noer Abadi, Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jember, mengaku tak bisa menghentikan pemberian izin untuk pendirian pasar swalayan. Kebijakan proteksi terhadap pasar tradisional ada pada kepala desa dan camat.

”Jika masyarakat melalui kepala desa dan camat setuju, dan ditambah ada izin gangguan dari dinas pekerjaan umum serta dari bagian lingkungan hidup, kami tidak bisa menolak,” papar Agoes Noer Abadi.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi H Abdullah Azwar Anas di jember mengatakan, untuk melindungi pasar tradisional Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memoratorium pemberian izin pasar modern, swalayan, dan mal. Bahkan, Pemkab Banyuwangi menutup delapan pasar modern ilegal. (SIR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau