Pacar tak Perawan Lagi, Lanjut atau Mundur?

Kompas.com - 29/04/2012, 11:38 WIB

TANYA :

Dok, saya ingin mencari jalan keluar atas belenggu yang teramat sangat menyiksa. Saya pacaran dan berniat serius sama seorang wanita selama 3 tahun lebih. Kesetiaan, kejujuran dan ketulusan selalu kami junjung tinggi meski kami long distance relationship (LDR), karena kami memang berniat serius untuk sampai pelaminan.
 
Sampai datang pada suatu masalah dan kita "break" pacaran. Namun karena saking bencinya sama saya, dia putuskan untuk menerima cinta dari laki-laki lain. Dan petaka itu pun terjadi. Dia diperkosa oleh pacarnya. Tetapi anehnya, dia tidak mau  menikah dengan pacarnya itu, karena memang dia cintanya sama saya.

Ini bagamana dok ? Satu sisi saya sangat teramat mencintai dia, dan dia pun begitu mencintai saya.. tapi di sisi yang lain,.. saya frustasi dan menjadi depresi berat kalau ingat dia sudah tidak suci lagi. Bagaimana dok, saya lanjut sama dia atau mundur? Sejak tahu peristiwa itu, saya semakin memikirkan dia, dan enggak bisa kalau tanpa dia. Tapi saya juga tiba-tiba jadi emosi dan begitu murka sama dia. Bagaimana penyelesaiannya? Mohon pencerahannya.. Trims

(Rama, 20, Semarang)

 

 

JAWAB :

Rama yang baik,

Mencintai bagi kebanyakan orang memang identik dengan memiliki dan sifatnya adalah egoistik. Jarang orang yang benar-benar mau mencintai orang apa adanya dan menerima segala yang buruk atau baik dari pasangan kita dengan hati yang terbuka. Apa yang dialami oleh Rama juga banyak dialami oleh orang lain.

Kalau memang Rama sangat mencintai dia, mengapa masih berpikir tentang dia sudah tidak suci lagi? Kalau memang Rama tidak termasuk orang yang bisa menerima kalau pasangannya sudah tidak perawan lagi maka ada baiknya Rama memang tidak perlu bersama dia lagi.

Bersama dengan orang yang tidak sesuai dengan harapan kita hanya akan menimbulkan masalah jika kita tidak bisa menerimanya dengan baik. Rama sudah menyatakan sendiri kalau Rama menjadi begitu murka jika mengingat apa yang terjadi pada diri pasangan Rama itu. Singkatnya, jika memang saling mencintai apa adanya dan bukan hanya mencintai "fisik"nya saja, maka Rama akan bisa menerima apa yang telah terjadi.

Tapi kalau masih menjadi begitu marah, walaupun mengatakan saling mencintai, sebenarnya hal itu bukanlah cinta yang sejati.

Salam Sehat Jiwa
 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau