Impor Pertamax ini akan menyebabkan neraca pembayaran Indonesia, terutama minyak dan gas bumi (migas), makin defisit. Menurut data Bank Indonesia, tahun 2011, impor migas sudah lebih tinggi daripada ekspor migas. Impor migas tahun 2011 senilai Rp 37,5 miliar dollar AS dan ekspor Rp 36,9 miliar dollar AS.
Namun, PT Pertamina tidak dapat menghindar dari impor Pertamax karena permintaan yang akan naik itu disebabkan oleh kebijakan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. ”Dari sisi pasokan Pertamax, kami siap. Pasalnya, pembatasan Premium, kan, rencananya bertahap, di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) dulu, baru kemudian di Jawa-Bali,” kata Wakil Presiden Senior Distribusi dan Pemasaran Bahan Bakar Minyak PT Pertamina Djoko Prasetyo, akhir pekan lalu, di Jakarta.
Saat ini kilang milik PT Pertamina baru dapat memproduksi Pertamax 400.000 kiloliter per tahun. Padahal volume penjualan Pertamax 550.000 kiloliter. ”Jadi kami harus mengimpor 150.000 kiloliter,” kata dia.
Djoko Prasetyo mengakui, PT Pertamina tidak siap memproduksi Pertamax sesuai target pemerintah, yakni pengalihan konsumsi 3 juta kiloliter Premium ke Pertamax. ”Kalau kenaikan volume penjualan Pertamax 3 juta kiloliter, mungkin kami baru siap tahun 2017, setelah ada kilang baru,” ujar Djoko.
Untuk itu PT Pertamina akan menambah impor Pertamax sesuai kebutuhan. ”Kan, harga keekonomian Premium dan Pertamax hampir sama, selisihnya sedikit. Bedanya cuma Premium disubsidi,” kata Djoko.
Djoko menambahkan, proses penambahan impor Pertamax itu butuh waktu minimal dua bulan agar dapat mencari pasokan dan merumuskan kontrak untuk penyerahan dua bulan kebutuhan. ”Kalau sudah punya daftar pemasok. Kalau aturan pembatasan BBM sudah diumumkan pemerintah, kami baru melaksanakan tender pengadaan,” kata Djoko.
Di lapangan, sejumlah pengelola stasiun pengisian bahan bakar untuk umum di Jawa mengkhawatirkan reaksi pelanggan jika ada pembatasan BBM bersubsidi. ”Jika pemerintah tidak mempersiapkan rencana pembatasan BBM bersubsidi dengan baik dan minim sosialisasi, kami, operator di lapanganlah yang akan merasakan dampaknya, menghadapi kemarahan pelanggan di SPBU,” ujar Tri Priyono, Kepala Giliran (Shift) SPBU Company Owned Company Operated (COCO) PT Pertamina di Kota Magelang, Jawa Tengah, Minggu (29/4).
Namun, Manajer Operasional SPBU Muri di Dampyak, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Elisabeth Ratih Dewi, telah menyiapkan tangki timbun yang akan digunakan untuk menampung Pertamax apabila terjadi kenaikan permintaan Pertamax. ”Tangki timbun Premium juga siap dialihkan untuk tangki Pertamax,” kata Elisabeth.