Impor Pertamax Naik

Kompas.com - 30/04/2012, 04:42 WIB

Jakarta, Kompas - PT Pertamina memperkirakan peningkatan volume penjualan Pertamax 2,5 juta kiloliter per tahun. Hal ini terjadi jika pembatasan bahan bakar minyak bersubsidi diterapkan di Jawa dan Bali. Untuk itu PT Pertamina mengimpor Pertamax 150.000 kiloliter.

Impor Pertamax ini akan menyebabkan neraca pembayaran Indonesia, terutama minyak dan gas bumi (migas), makin defisit. Menurut data Bank Indonesia, tahun 2011, impor migas sudah lebih tinggi daripada ekspor migas. Impor migas tahun 2011 senilai Rp 37,5 miliar dollar AS dan ekspor Rp 36,9 miliar dollar AS.

Namun, PT Pertamina tidak dapat menghindar dari impor Pertamax karena permintaan yang akan naik itu disebabkan oleh kebijakan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. ”Dari sisi pasokan Pertamax, kami siap. Pasalnya, pembatasan Premium, kan, rencananya bertahap, di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) dulu, baru kemudian di Jawa-Bali,” kata Wakil Presiden Senior Distribusi dan Pemasaran Bahan Bakar Minyak PT Pertamina Djoko Prasetyo, akhir pekan lalu, di Jakarta.

Saat ini kilang milik PT Pertamina baru dapat memproduksi Pertamax 400.000 kiloliter per tahun. Padahal volume penjualan Pertamax 550.000 kiloliter. ”Jadi kami harus mengimpor 150.000 kiloliter,” kata dia.

Djoko Prasetyo mengakui, PT Pertamina tidak siap memproduksi Pertamax sesuai target pemerintah, yakni pengalihan konsumsi 3 juta kiloliter Premium ke Pertamax. ”Kalau kenaikan volume penjualan Pertamax 3 juta kiloliter, mungkin kami baru siap tahun 2017, setelah ada kilang baru,” ujar Djoko.

Untuk itu PT Pertamina akan menambah impor Pertamax sesuai kebutuhan. ”Kan, harga keekonomian Premium dan Pertamax hampir sama, selisihnya sedikit. Bedanya cuma Premium disubsidi,” kata Djoko.

Djoko menambahkan, proses penambahan impor Pertamax itu butuh waktu minimal dua bulan agar dapat mencari pasokan dan merumuskan kontrak untuk penyerahan dua bulan kebutuhan. ”Kalau sudah punya daftar pemasok. Kalau aturan pembatasan BBM sudah diumumkan pemerintah, kami baru melaksanakan tender pengadaan,” kata Djoko.

Perlu sosialisasi

Di lapangan, sejumlah pengelola stasiun pengisian bahan bakar untuk umum di Jawa mengkhawatirkan reaksi pelanggan jika ada pembatasan BBM bersubsidi. ”Jika pemerintah tidak mempersiapkan rencana pembatasan BBM bersubsidi dengan baik dan minim sosialisasi, kami, operator di lapanganlah yang akan merasakan dampaknya, menghadapi kemarahan pelanggan di SPBU,” ujar Tri Priyono, Kepala Giliran (Shift) SPBU Company Owned Company Operated (COCO) PT Pertamina di Kota Magelang, Jawa Tengah, Minggu (29/4).

Namun, Manajer Operasional SPBU Muri di Dampyak, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Elisabeth Ratih Dewi, telah menyiapkan tangki timbun yang akan digunakan untuk menampung Pertamax apabila terjadi kenaikan permintaan Pertamax. ”Tangki timbun Premium juga siap dialihkan untuk tangki Pertamax,” kata Elisabeth.

(EVY/EGI/WIE/SIR/OSA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau