Jasad pekerja Palang Merah Internasional asal Inggris yang diculik di Pakistan sejak Januari lalu ditemukan tewas di sebuah kebun, di Quetta, Minggu (29/4).
Polisi setempat mengatakan Khalid Rasjed Dale, 60, ditemukan dalam kondisi leher digorok dan di tubuhnya ditemukan catatan yang isinya mengatakan pembunuhan terpaksa dilakukan karena tebusan tak kunjung diberikan.
Rasjed Dale menjabat manajer program kesehatan di Quetta saat kelompok orang bersenjata menculiknya di jalanan dekat kantornya.
Identitas kelompok penculik itu tidak diketahui tetapi kawasan tersebut merupakan 'sarang' kelompok militan dan separatis yang kerap melakukan penculikan.
Direktur Jenderal Komite Palang Merah Internasional (ICRC) Yves Daccord mengutuk tindakan yang disebutnya sebagai aksi barbarian.
"Kami semua di ICRC dan Palang Merah Inggris menyatakan duka cita dan kemarahan mendalam atas kejadian ini," kata Daccord.
Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengutuk pembunuhan itu dan mengatakan pemerintah Inggris sudah mengupayakan semua cara untuk membebaskan Khalid.
Quetta, ibukota Provinsi Baluchistan, berlokasi dekat perbatasan Afganistan dan selama puluhan tahun menjadi tujuan pengungsi negeri itu.
Palang Merah membuka klinik di dekat kota untuk merawat korban perang Afganistan termasuk para pemberontak Taliban.
Sulit diungkap
Sementara itu Kementerian Luar Negeri Pakistan juga mengutuk peristiwa itu dan menjanjikan untuk menangkap pelakunya.
Namun, selama ini penanganan kasus-kasus penculikan seperti ini sangat jarang bisa terungkap.
Dua pejabat intelijen Pakistan di Quetta yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan mereka tengah melakukan penyelidikan apakah kasus ini merupakan pekerjaan kelompok Taliban Pakistan.
Saat ini, setidaknya masih terdapat empat warga asing yang menjadi korban penculikan di Pakistan.
Agustus tahun lalu, seorang pekerja sosial asal Amerika Serikat Warren Wenstein, 70, diculik dari kediamannya di Lahore, Pakistan.
Al Qaeda mengklaim menahan Warren dan mengatakan akan melepasnya jika Amerika Serikat berhenti melakukan serangan udara di Afghanistan, Pakistan, Somalia dan Yaman.
Maret lalu, pasangan asal Swiss yang sudah diculik selama delapan bulan oleh Taliban tiba-tiba muncul di sebuah pos militer dekat perbatasan Afganistan.
Para pemberontak menuntut tebusan dalam jumlah besar untuk memastikan agar kedua warga Swiss itu tidak dibunuh. Hingga kini tidak diperoleh konfirmasi baik dari pemerintah Pakistan atau Swiss soal pembayaran tebusan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang