UAV Buatan UGM-Lapan Potret Puncak Merapi

Kompas.com - 30/04/2012, 17:17 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memanfaatkan teknologi pesawat terbang nirawak atau unmanned aerial vehicle (UAV) berhasil melakukan pemotretan kubah Gunung Merapi dari udara.

Dari teknik tersebut diperoleh gambar puncak Gunung Merapi untuk pertama kali sejak Merapi mengalami letusan besar tahun 2010.

Para peneliti menggunakan pesawat nir-awak karena aktivitas Gunung Merapi yang tinggi dan frekuensi letusan yang sering terjadi sehingga diperlukan sistem pemantauan dengan tingkat keamanan yang tinggi serta persyaratan terbang yang murah dan mudah.

Uniknya, pesawat kecil ini dibuat hanya menggunakan bahan styrofoam. Memiliki panjang sekitar 1,2 meter dan bentang sayap 1,6 meter. Dilengkapi sistem terbang otomatis, sehingga dapat terbang bebas sesuai sasaran dan jalur terbang yang telah ditentukan.

"Pesawat ini mampu terbang hingga ketinggian 3.300 meter. Yang sudah kami lakukan, terbang sekitar 400 meter di atas puncak Merapi dan melakukan misinya terbang selama 30 menit," kata peneliti Elektronika dan Intsrumentasi FMIPA UGM, Drs Tri Kuntoro Priyambodo, MSc, Senin (30/4/2012).

Untuk pengambilan gambar di puncak Merapi, pesawat nir-awak ini dipasang kamera pocket untuk memotret kondisi di atas puncak Gunung Merapi dari berbagai sisi.

Hasil yang diperoleh sekitar 900 gambar dengan resolusi 12 megapixel. Selanjutnya gambar-gambar tersebut diolah oleh tim dari Geofisika UGM untuk menghasilkan foto tiga dimensi agar bisa memberikan informasi yang lebih rinci.

"Gambar diolah menjadi basis data dan informasi 3D tentang bentuk kubah dan penumpukan limpahan lahar pascaerupsi," kata Tri Kuntoro.

Bahkan lewat foto 3 dimensi, lanjut Tri Kuntoro, volume lahar dingin dan volume kubah dapat diperhitungkan.

"Sumber utama bencana yaitu besarnya guguran lahar dapat diperhitungkan. Informasi ini saya rasa sangat penting untuk proses mitigasi, evakuasi, dan peringatan dini tentang besarnya bencana yang akan timbul," katanya.

Tri Kuntoro mengatakan, kegiatan pengambilan gambar puncak Merapi menggunakan pesawat terbang tanpa awak ini merupakan yang pertama kali. Teknologi ini dapat digunakan di masa-masa mendatang mengingat kebutuhan pemantauan spasial harus dilakukan secara berkala terhadap Gunung Merapi.

Tidak hanya kondisi puncak, tetapi pemantauan juga untuk pemotretan area yang lebih luas sehingga mencakup seluruh area bahaya dan potensi bahaya Merapi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau