Nigeria

Boko Haram Berulah Lagi, 28 Tewas

Kompas.com - 01/05/2012, 03:59 WIB

kano, senin - Umat Kristen Nigeria kembali menjadi sasaran serangan kelompok garis keras Boko Haram, sayap Al Qaeda di Afrika Barat. Dalam serangan di hari Minggu (29/4), 21 orang jemaat yang tengah beribadah tewas di dua tempat terpisah, di Kano dan Maiduguri.

Pada hari Senin (30/4), tujuh orang tewas akibat ledakan bom di Jalingo, kota di Nigeria timur. ”Ledakan terjadi di antara kantor kementerian keuangan negara bagian dan kantor polisi,” kata Ibrahim Farinloye, Kepala cabang Badan Penanggulangan Darurat Nasional Nigeria di Jalingo. Selain 7 tewas, 12 orang lainnya terluka dalam serangan itu.

Sehari sebelumnya, Minggu, serangan terjadi di kompleks Universitas Bayero di Kano. Serangan terjadi saat gereja-gereja sedang menggelar ibadah. Palang Merah Nigeria mengatakan, serangan kelompok pria bersenjata itu menewaskan 16 orang dan melukai 22 orang.

Kepanikan anggota jemaat Kristiani yang tengah merayakan kebaktian di Kano belum berlalu, tiba-tiba kelompok bersenjata lain menyerang jemaat yang mengikuti misa di sebuah gereja di Maiduguri, kota asal Boko Haram, di Nigeria utara. Lima orang tewas ditembak, termasuk pastor pemimpin misa.

Belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab. Berdasarkan rangkaian serangan sebelumnya, aksi itu diduga dilakukan Boko Haram.

Regu penolong ditolak

Serangan di Universitas Bayero terjadi di sekitar sebuah teater dan ruang kuliah, yang juga biasa digunakan sebagai tempat ibadah oleh gereja-gereja lokal. Pejabat Polisi Kano, Ibrahim Idris, mengatakan, sekelompok pria bersenjata memasuki kampus dengan konvoi sepeda motor. Mereka membuat ledakan kecil dari kaleng soda di sekitar lokasi.

Menurut Idris, jemaat kemudian lari tunggang-langgang ke luar ruangan untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi, mereka ditembak anggota kelompok bersenjata yang memang sudah menunggu di luar ruangan. Ketika polisi datang, mereka sudah kabur.

Tidak lama setelah serangan itu, polisi dan tentara mengepung kampus. Tembakan menggema di jalan-jalan di luar kampus. Abubakar Jibril, juru bicara Badan Penanggulangan Darurat Nasional Nigeria, mengatakan, pasukan keamanan tidak mengizinkan regu penolong masuk kampus. Tentara juga mengusir wartawan menjauhi universitas.

Para saksi mata mengatakan, kelompok pria bersenjata memasuki ruang kebaktian lalu dan menembak. Banyak jemaat berhasil melarikan diri. Ketika kembali dari tempat persembunyian, mereka mendapati pastor tewas bersimbah darah di altar.

Perwakilan Boko Haram, yang biasa berbicara kepada wartawan melalui telepon, tidak bisa dihubungi. Boko Haram selama ini banyak terlibat kekerasan sektarian, yang menyasar umat Kristiani. Sebagian kecil umat Muslim pernah menjadi sasaran juga. Dalam tahun ini saja, sudah lebih dari 450 orang tewas.

(AP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau