Pelarian dramatis aktivis china

Pada Akhirnya Chen Hanya Mampu Merangkak

Kompas.com - 01/05/2012, 10:57 WIB

KOMPAS.com - Kisah pelarian aktivis China Chen Guangcheng dari rumah tempatnya dikurung merupakan mujizat. Diperlukan perencanaan dan kekuatan luar biasa hingga kini dia bisa berada di tempat yang aman.

Para pendukung Chen mengatakan aktivis tunanetra itu kini berada di bawah perlindungan diplomatik Amerika Serikat di Beijing.

"Pelarian Chen Guangcheng merupakan mujizat, sulit dipercaya kecuali Anda mendengar sendiri dia menceritakannya," kata Guo Yushan, seorang peneliti Beijing dan aktivis hak asasi manusia yang berjuang untuk Chen dan membantunya ke Beijing setelah pelarian itu.

Setelah pelarian Chen terungkap ke publik, Guo sempat ditahan dan diperiksa polisi selama beberapa hari. Ini merupakan wawancara pertamanya pascapenahanan itu.

"Dia (Chen) harus memanjat delapan tembok dan lebih dari selusin penghalang sendirian, terpeleset dan jatuh ratusan kali selama 19 jam sampai dia berhasil menyeberangi sebuah sungai kecil dan akhirnya keluar dari desanya," kata Guo, mengutip Chen.

Chen berhasil melarikan diri dari rumahnya di Desa Dongshigu di Provinsi Shandong, China timur. Dia dikurung selama 19 bulan di rumah itu bersama ibu, istri, dan anaknya. Penahanan di rumah itu dialaminya setelah dia menyelesaikan 4,5 tahun hukuman penjara.

"Sekujur tubuhnya penuh luka dan memar akibat jatuh dan memanjat. Kaki kanannya keseleo hingga dia nyaris tidak bisa berdiri," kata Guo. "Pada akhirnya dia hanya bisa merangkak dalam waktu yang lama, jadi waktu saya melihatnya kondisinya sangat mengenaskan."

Meskipun Chen bersusah payah melarikan diri dari kurungan, tujuan utamanya bukanlah mencari perlindungan ke Amerika atau negara lain, kata Guo.

"Dia berkukuh tidak mau mengajukan permohonan suaka politik ke negara manapun. Dia benar-benar ingin tetap tinggal di China dan menuntut ganti rugi atas hukuman ilegal yang dialaminya selama bertahun-tahun di Shandong dan akan melanjutkan perjuangannya untuk rakyat China," papar Guo.

Guo tidak mau berbicara tentang pertolongan yang sudah diterima Chen dari kerabat dan warga desa di Shandong. Namun dia khawatir orang-orang yang menolongnya itu bakal menerima kemarahan para pejabat lokal yang merasa dipermalukan karena pelariannya.

Istri chen, Yuang Weijing, tidak bisa dikontak, imbuh Guo.

"Saat ini yang paling kami khawatirkan adalah keselamatan keluarganya, bahwa begitu para pejabat mengetahui Chen kabur, mereka akan membalas (keluarga Chen)."

Kisah pelarian Chen kini menjadi bagian dari kisah kepahlawanan para pembangkang China. Bagaimana seorang tunanetra mengalahkan raksasa, kendali Partai Komunis China. Seperti keberanian yang ditunjukkan seorang lelaki yang menantang tank militer di Lapangan Tiananmen pada 1989.

Chen, seorang advokat otodidak yang berjuang melawan aborsi paksa yang diterapkan pemerintah untuk program keluarga berencana. Dia dijadikan tahanan rumah tanpa pengadilan sejak September 2010.

"Dia menghabiskan waktu lebih dari dua bulan tinggal di dalam kamarnya untuk dua alasan, mempelajari pola penjagaannya dan membuat para penjaganya mengira dia, Chen Guangcheng, tidak akan keluar ataupun berusaha kabur," papar Guo.

"Dia memanfaatkan sedikit peluang untuk melompati tembok pertama dalam waktu lima detik, lalu melewati tembok kedua, ketiga, keempat," lanjut Guo. "Dia butuh waktu sembilan belas jam untuk bisa keluar."

Para pejabat desa dan penjaganya benar-benar percaya bahwa Chen masih terkurung di kamarnya sampai-sampai dia tidak mengetahui pelarian itu sampai Chen pergi, ujar Guo.

Dikatakannya, begitu mengetahui dari kontak-kontaknya bahwa Chen melarikan diri, Guo memacu mobilnya untuk menjemput dan membawa Chen serta penolongnya, He Peirong. Perjalanan ke Beijing itu menempuh jarak 600 kilometer.

"Situasinya kini rumit, jadi saya tidak mau mengkonfirmasi soal keberadaan dia. Yang pasti, pilihan pribadinya adalah tidak meninggalkan China," tegas Guo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau